Soal DPK yang Tinggi, Bankir: Nasabah Kaya Pilih Menabung daripada Investasi

Kompas.com - 24/09/2020, 16:03 WIB
Ilustrasi rupiah, gaji. Shutterstock/Pepsco StudioIlustrasi rupiah, gaji.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat perbankan memperhatikan kualitas aset. Tingginya Dana Pihak Ketiga (DPK) di tengah penyaluran kredit yang melandai membuat bank perlu menyesuaikan rencana bisnis.

Salah satunya dialami oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Plt Direktur Utama Bank Mandiri, Hery Gunardi mengatakan, pihaknya terus menstabilkan dana nasabah yang tidak bisa disalurkan kembali untuk menekan biaya dana alias cost of fund (CoF)

"Kita kualitas aset jadi perhatian. Dari sisi top line, pertumbuhan kredit kita tidak optimal. Di sisi lain, kita punya dana (DPK) yang tinggi. Ini harus distabilkan agar tidak ada cost of fund yang tinggi," kata Hery dalam Mandiri Economic Outlook, Kamis (24/9/2020).

Baca juga: Bank BUKU IV Sokong Pertumbuhan DPK pada Juli 2020

Hery menuturkan, tingginya DPK di perbankan disebabkan karena masyarakat kelas atas sebagai pemilik dana cenderung hati-hati di masa pandemi Covid-19. Mereka lebih memilih menyimpan dananya di bank, alih-alih berinvestasi.

Tercatat, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi pada semester I 2020 mencapai 15,82 persen (yoy) menjadi Rp 976,6 triliun, di mana komposisi dana murah mencapai 61,9 persen.

Hal ini membuat perbankan harus ekstra hati-hati mengelola dana, dengan mencari instrumen yang dianggap mampu memberikan imbal hasil lebih baik.

"Sulit mem-balance (menyeimbangkan) cost of fund rendah, di sisi lain kredit harus stabil. Pandai-pandai memainkan di SBN dapat yield yang lebih baik. Memang dalam kondisi krisis ada fenomena pemilik dana lebih suka pegang tunai. Cash is the king," ucap Hery.

Sedangkan, penyaluran kredit Bank Mandiri secara konsolidasi hanya tumbuh 4,38 persen (yoy) menjadi Rp 871,7 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 835,1 triliun.

Kredit yang disalurkan pun berpotensi menjadi kredit macet (non performing loan/NPL) karena sektor rill dan masyarakat tak bisa beraktivitas normal.

Untuk mencegah itu terjadi, kata Hery, Bank Mandiri tetap menerapkan azas prudent, yakni membangun Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), meski ada program restrukturisasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Diperkirakan tidak semua debitur bisa continue (membayar). Kita sudah siap agar tidak ada surprise yang terjadi di tahun depan," ucap Hery.

Baca juga: Klaim Saldo Rekening Rp 720 Triliun Kerajaan King of The King Kalahkan Total DPK BNI



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pegadaian Prediksi Transaksi Gadai Emas Turun jelang Lebaran, Ini Penyebabnya

Pegadaian Prediksi Transaksi Gadai Emas Turun jelang Lebaran, Ini Penyebabnya

Whats New
Tekan Serbuan Impor, Kemenperin Dorong Penggunaan Produk Logam Ber-SNI

Tekan Serbuan Impor, Kemenperin Dorong Penggunaan Produk Logam Ber-SNI

Rilis
Masih Ada 8 Cabang yang Beroperasi, Bank Mandiri Tetap Salurkan Kredit di Aceh?

Masih Ada 8 Cabang yang Beroperasi, Bank Mandiri Tetap Salurkan Kredit di Aceh?

Whats New
Indonesia Targetkan Setop Impor BBM dan LPG pada 2030

Indonesia Targetkan Setop Impor BBM dan LPG pada 2030

Whats New
Kena PKPU, Ini Penjelasan Totalindo Eka Persada

Kena PKPU, Ini Penjelasan Totalindo Eka Persada

Whats New
Link Pendaftaran BPUM 2021 Online di Jakarta dan Berbagai Daerah Lain

Link Pendaftaran BPUM 2021 Online di Jakarta dan Berbagai Daerah Lain

Whats New
17.387 Perusahaan Telah Mendaftar Vaksinasi Gotong Royong

17.387 Perusahaan Telah Mendaftar Vaksinasi Gotong Royong

Whats New
Kabar Gembira bagi UMKM Eksportir Pemula, Garuda Bakal Diskon 50 Persen Tarif Kargo

Kabar Gembira bagi UMKM Eksportir Pemula, Garuda Bakal Diskon 50 Persen Tarif Kargo

Smartpreneur
Simak Tiga Strategi Marketing Dalam Menjalankan Usaha di Bulan Ramadan

Simak Tiga Strategi Marketing Dalam Menjalankan Usaha di Bulan Ramadan

Smartpreneur
[KURASI KOMPASIANA] Tantangan bagi 'Anak Bawang' di Tempat Kerja, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

[KURASI KOMPASIANA] Tantangan bagi "Anak Bawang" di Tempat Kerja, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Rilis
Rupiah Menguat Usai BI Pertahankan Suku Bunga, IHSG Justru Melemah

Rupiah Menguat Usai BI Pertahankan Suku Bunga, IHSG Justru Melemah

Whats New
Ada Larangan Mudik, Pengusaha Bus Minta Insentif ke Pemerintah

Ada Larangan Mudik, Pengusaha Bus Minta Insentif ke Pemerintah

Whats New
Masih Bisa Daftar, Cek Penerima BPUM 2021 di Eform.bri.co.id

Masih Bisa Daftar, Cek Penerima BPUM 2021 di Eform.bri.co.id

Whats New
BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021 Jadi 4,1-5,1 Persen

BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021 Jadi 4,1-5,1 Persen

Whats New
Sebelum Mudik Dilarang, Tiket Kereta sampai 5 Mei Sudah Bisa Dibeli

Sebelum Mudik Dilarang, Tiket Kereta sampai 5 Mei Sudah Bisa Dibeli

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X