Kompas.com - 21/10/2020, 11:00 WIB
Hubertus Wim Djanoko pemilik Sayur Home Delivery. DOKUMENTASI TOKOPEDIAHubertus Wim Djanoko pemilik Sayur Home Delivery.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak mewabahnya pandemi, masyarakat dituntut untuk memutar otak agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Membuka bisnis usaha yang baru juga bisa dilakukan asal memiliki strategi yang tepat agar usaha tersebut bisa berkembang. Sama halnya dengan usaha bisnis sayuran, yang saat ini trend penjualannya sedang naik daun.

Salah satu pengusaha sayuran dengan brand Sayur Home Delivery, Hubertus Wim Djanoko mengatakan prospek bisnis sayuran ke depannya masih tetap tinggi. Sebab sayuran merupakan kebutuhan pokok yang memang harus dipenuhi.

Baca juga: Meski Mahal, Kualitas Sayuran Indonesia Diakui di Jepang

Namun lantaran banyaknya masyarakat yang memilih untuk diam di rumah, masyarakat membutuhkan layanan penjualan sayuran yang terhubung ke digital dan layanan sistem delivery.

"Sekarang sejak pandemi ini orang diminta untuk di rumah aja. Jadi ketika bisnis sayuran tersebut dihubungkan ke kanal digital, pasti lebih prospek lagi, ibu-ibu sekarang kan pengen yang sekali klik barang sudah diantar. Masih tetap ada lah ke depannya," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/10/2020).

Hanya saja menurut dia, berbisnis sayur harus memiliki kreativitas yang tinggi agar bisa bersaing. Ini karena banyaknya para pemain baru yang bermunculan.

Wim mengakui, awalnya ketika dia membuka usahanya di bulan Maret, para pesaingnya masih sedikit. Pada saat itulah dia mendapatkan jumlah orderan yang cukup tinggi.

Namun tak lama kemudian, sejak pemain baru bermunculan, omzet dia mulai menurun. "Menurunnya enggak terlalu signifikan sih, cuma persaingannya mulai kerasa," ungkapnya.

Baca juga: Berkat Sayuran Super, Kopontren Ini Bisa Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah

Untuk itu, dia juga memanfaatkan berbagai platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan JD.ID untuk memperkenalkan usahanya yang lebih luas.

Ketika e-commerce lain, seperti Tokopedia sedang menyelenggarakan program promo 10.10 dia pun ikut ambil andil dalam program tersebut. Cara ini kata dia, selain bisa dikenal lebih banyak pelanggan, promo tersebut pun juga bisa dipakai mereka untuk berbelanja.

"Jadi kalau ada promo, pelanggan juga terbantu kan, dan produk yang kami jual juga bisa lebih banyak yang laku," ungkapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa yang Dimaksud dengan Startup?

Apa yang Dimaksud dengan Startup?

Whats New
Apa Saja yang Termasuk UMKM?

Apa Saja yang Termasuk UMKM?

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Screen Time: Positif atau Negatif untuk Anak? | 4 Kiat Hadapi Kecanduan Gawai pada Anak Usia Dini | Jangan Ada Gawai di Antara Kita

[KURASI KOMPASIANA] Screen Time: Positif atau Negatif untuk Anak? | 4 Kiat Hadapi Kecanduan Gawai pada Anak Usia Dini | Jangan Ada Gawai di Antara Kita

Rilis
10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Aset Kripto

10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Aset Kripto

Spend Smart
Peringati Hari Perawat Sedunia, Waketum Kadin: Jasamu Sungguh Besar

Peringati Hari Perawat Sedunia, Waketum Kadin: Jasamu Sungguh Besar

Whats New
Kontrol Arus Balik Lebaran, Ini Titik Penyekatan dan Rapid Test Antigen Acak

Kontrol Arus Balik Lebaran, Ini Titik Penyekatan dan Rapid Test Antigen Acak

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Cicipi 3 Hidangan Lebaran Anti-Mainstream dari Berbagai Daerah Nusantara

[KURASI KOMPASIANA] Cicipi 3 Hidangan Lebaran Anti-Mainstream dari Berbagai Daerah Nusantara

Rilis
Larangan Mudik Lebaran, Staycation Sepi Peminat

Larangan Mudik Lebaran, Staycation Sepi Peminat

Whats New
Meski Ada Larangan Mudik, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Tembus 7 Persen di Kuartal II-2021

Meski Ada Larangan Mudik, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Tembus 7 Persen di Kuartal II-2021

Whats New
Buruh Sindir Pemerintah Soal Masuknya TKA saat Lebaran: Hilang Kegarangan Para Pejabat

Buruh Sindir Pemerintah Soal Masuknya TKA saat Lebaran: Hilang Kegarangan Para Pejabat

Rilis
Bantu Peternak Layer di Blitar dan Kendal, Kementan Fasilitasi Biaya Distribusi Jagung

Bantu Peternak Layer di Blitar dan Kendal, Kementan Fasilitasi Biaya Distribusi Jagung

Rilis
Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemudik di 2 Pelabuhan ini Wajib Rapid Test Antigen

Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemudik di 2 Pelabuhan ini Wajib Rapid Test Antigen

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Tren Hampers Lebaran | Resep Opor Ayam dan Rendang Daging Sapi | Hidangan Kue Lebaran

[POPULER DI KOMPASIANA] Tren Hampers Lebaran | Resep Opor Ayam dan Rendang Daging Sapi | Hidangan Kue Lebaran

Rilis
Jakarta Dinobatkan Kota Paling Terdampak Bahaya Lingkungan, Ini Saran Susi Pudjiastuti

Jakarta Dinobatkan Kota Paling Terdampak Bahaya Lingkungan, Ini Saran Susi Pudjiastuti

Whats New
Realisasikan Janji Presiden Jokowi, Kementan Salurkan Bantuan Hand Tractor ke Sumba Tengah

Realisasikan Janji Presiden Jokowi, Kementan Salurkan Bantuan Hand Tractor ke Sumba Tengah

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X