Rekam Jejak Catatan Keuangan Garuda, BUMN yang Sering Merugi

Kompas.com - 08/11/2020, 08:03 WIB
Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) berada di  pesawat Garuda yang disewa khusus di Bandar Udara Internasional Velana, Maldives, Jumat (1/5/2020) malam. KBRI Colombo merepatriasi mandiri gelombang kedua dengan memulangkan 347 pekerja migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Indonesia akibat pandemi Virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/LUTFI ANDARUSejumlah warga negara Indonesia (WNI) berada di pesawat Garuda yang disewa khusus di Bandar Udara Internasional Velana, Maldives, Jumat (1/5/2020) malam. KBRI Colombo merepatriasi mandiri gelombang kedua dengan memulangkan 347 pekerja migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Indonesia akibat pandemi Virus Corona (COVID-19).

Garuda Indonesia sempat jadi sorotan setelah memoles laporan keuangannya. Perusahaan awalnya mencatatkan untung sebesar 5 juta dollar AS, namun kemudian direvisi (restatement) menjadi rugi 216,58 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,45 triliun.

Laporan keuangan yang dipoles ini mencuat setelah komisaris dari perwakilan CT Corp menolak untuk menandatangani laporan kinerja. Belakangan Garuda terbukti memoles laporan keuangan dan diminta OJK dan BPK untuk merevisinya.

Tahun 2017 rugi Rp 2,98 triliun

Setelah mengalami periode untung 2 tahun berturut-turut. Garuda membukukan rugi di tahun 2017. Kerugiannya mencapai Rp 2,98 triliun atau lebih besar dari gabungan untung dua tahun sebelumnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury yang menggantikan Arif Wibowo mengatakan, kerugian perseroan sebagian besar disebabkan peningkatan biaya bahan bakar avtur, yakni sebesar 16,5 persen secara tahunan.

Baca juga: Masker Desain Anak Negeri Dipasang di Pesawat Garuda Indonesia

Sepanjang 2017, biaya bahan bakar yang dikeluarkan Garuda Indonesia mencapai 1,155 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 924,7 juta dollar AS.

Tahun 2016 untung Rp 124 miliar

Garuda kembali mencatatkan laba bersih di tahun 2015. Kali ini sebesar 9,36 juta dollar AS atau setara Rp 124,5 miliar sepanjang tahun 2016. Hingga akhir tahun, grup usaha mengangkut 35 juta penumpang baik Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia.

"Seperti kita ketahui tren pertumbuhan industri penerbangan di dunia khususnya Asia Pasifik mengalami tekanan sejak lima tahun terakhir, mulai dari perlambatan ekonomi global hingga mempengaruhi daya beli masyarakat, namun Garuda Indonesia grup masih tetap bisa mempertahankan kinerja positifnya," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo saat itu.

Tahun 2015 untung Rp 1,07 triliun

Halaman:


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X