Harga Beras Tak Bergejolak Jelang Akhir Tahun, Ini Penopangnya Menurut Kementan

Kompas.com - 28/12/2020, 11:38 WIB
Ilustrasi beras plastik KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANIlustrasi beras plastik

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga beras tak bergejolak bahkan stabil jelang akhir tahun, kondisi ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu mengalami kenaikan.

Terjaganya harga beras ternyata tak lepas dari dampak program bantuan sosial (bansos) dalam bentuk sembako yang gencar diberikan pemerintah sebagai upaya penanganan pandemi Covid-19.

"Harganya cenderung flat, naik pun hanya sedikit Rp 200. Berarti kan ini stabil banget, biasanya kan (saat akhir tahun) naiknya tinggi," ujar Kepala Bidang Harga Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan) Inti Pertiwi kepada Kompas.com, Senin (28/12/2020).

Baca juga: Bulog Klaim Penyaluran Bansos Beras Sesuai Aturan dan Tepat Sasaran

Ia menjelaskan, umumnya secara musiman harga beras selalu naik cukup tinggi saat akhir dan awal tahun, sebab permintaan cenderung meningkat, terlebih produksi rendah pada periode itu karena sedang memasuki musim tanam.

Tetapi berbeda dengan tren harga beras kali ini yang stabil dibandingkan periode pergantian tahun 2018/2019 dan 2019/2020.

Berdasarkan data BKP Kementan pada periode 2018/2019 dan 2019/2020 harga beras di tingkat konsumen naik tinggi hingga lebih dari Rp 11.000 per kilogram. Angka tersebut sudah jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) pemerintah yang sebesar Rp 9.450-Rp 10.250 per kilogram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara hingga Desember 2020, harga beras medium di tingkat konsumen sebesar Rp 10.875 per kilogram. Tren harganya semakin menurun jelang akhir tahun, meski masih berada di atas HET.

Inti mengatakan, berdasarkan tinjauannya kepada para pelaku pasar komoditas ini, diakui bansos dalam bentuk beras yang digelontorkan pemerintah membuat permintaan beras oleh masyarakat menurun.

"Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini penggelontoran bansos untuk penanganan Covid-19, bantuan kemarin itu banyak sekali untuk beras. Jadi menyebabkan kalangan yang terima bansos enggak belanja, sehingga serapan beras di pasar juga kurang," jelas dia.

Menurut dia, hal itu menjadi kabar baik di tengah tren harga komoditas pangan lainnya yang melonjak, seperti telur ayam dan cabai. Lantaran, beras yang merupakan salah satu komoditas pangan pokok harganya bisa terjaga sehingga meringankan beban masyarakat di tengah tekanan pandemi.

"Jadi masih bersyukur beras itu bisa stabil, biasanya secara musiman bulan-bulan ini selalu naik tinggi. Sehingga pengeluaran masyarakat jadi terbantulah, karena biasanya beras naik tapi sekarang enggak naik. Kalau pemerintah sih, inginnya stabil begini, asal harga di petani tidak turun, kalau di petani turun kami pasti bergerak," papar Inti.

Baca juga: Diversikasi Pangan, Bulog Bikin Produk Beras Singkong

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.