Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siap-siap, Orang Kaya di AS akan Kena Pajak hingga 43 Persen

Kompas.com - 23/04/2021, 16:19 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berencana menaikkan pajak capital gain bagi orang kaya di Amerika. Pajak akan naik hingga 43,4 persen untuk menutupi beban biaya sosial.

Menurut Bloomberg, Jumat (23/4/2021), pajak dikenakan bagi warga berpenghasilan 1 juta dollar AS atau lebih. Mereka akan dikenakan pajak tambahan pada pendapatan investasi. Dengan begitu, tarif pajak federal untuk investor kaya bisa mencapai 43,4 persen.

Selain itu, tarif pajak naik dari 20 persen menjadi 39,6 persen. Sedangkan pajak 3,8 persen pendapatan investasi untuk mendanai Obamacare akan tetap dipertahankan. Hal ini mendorong tarif pajak atas untuk pengembalian aset keuangan lebih tinggi daripada tarif pendapatan gaji.

Baca juga: Turun 5,6 Persen Dibanding Tahun Lalu, Penerimaan Pajak Kuartal I Rp 228,1 Triliun

Proposal aturan itu dapat membalikkan ketentuan kode pajak yang sudah lama berlaku bahwa pengembalian pajak atas investasi lebih rendah daripada tenaga kerja.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, mengatakan, pemerintah belum menyelesaikan rencana tersebut. Namun menekankan tekad Biden untuk membuat orang kaya dan perusahaan membayar pajak lebih tinggi.

Diperkirakan Biden akan merilis proposal ini pada minggu depan. Langkah - langkah yang dibahas pemerintah termasuk peningkatan pajak properti untuk orang kaya.

Bahkan, ia memperingkatkan warga yang berpenghasilan lebih dari 400.000 dollar AS dapat membayar pajak lebih tinggi lagi.

Diketahui, Gedung Putih telah membuka rencana untuk menaikkan pajak perusahaan yang digunakan untuk mendanai program Rencana Pekerjaan Amerika. Program ini fokus pada sektor infrastruktur senilai 2,25 triliun dollar AS.

Partai Demokrat mengatakan bahwa tingkat capital gain saat ini sangat membantu warga yang berpenghasilan tinggi karena mereka dapat penghasilan melalui investasi dibandingkan dalam bentuk upah, sehingga tarif pajak jadi lebih rendah bagi orang kaya daripada orang yang mereka pekerjakan.

Pajak capital gain dibayarkan saat aset dijual, dan diterapkan pada nilai apresiasi aset sejak dibeli hingga dijual.

Kongres Demokrat secara terpisah telah mengusulkan serangkaian perubahan pada perpajakan capital gain, termasuk mengenakan pungutan setiap tahun, bukan saat dijual.

Baca juga: Presiden Jokowi Bebaskan Pajak Air Bersih, Ini Rinciannya

Sementara itu, Partai Republik bersikeras mempertahankan pemotongan pajak tahun 2017 yang diterapkan oleh mantan Presiden Donald Trump. Alasannya keuntungan modal saat ini telah mendorong peningkatan tabungan dan ekonomi di masa depan.

"Pajak itu akan mengurangi investasi dan menyebabkan pengangguran," kata Republikan di Komite Keuangan Senat Chuck Grassley.

Proposal Biden untuk menyamakan tarif pajak untuk upah dan pendapatan capital gain bagi orang kaya akan sangat mengekang pemberlakuan pajak. Hal ini akan menguntungkan dari sisi pemotongan laba atas investasi yang diambil ekuitas swasta dan pengelola dana lindung.

Rencana tersebut secara efektif akan membawa manfaat bunga bagi pengelola dana yang menghasilkan lebih dari 1 juta dollar AS. Alasannya mereka tidak akan dapat membayar tingkat keuntungan modal yang lebih rendah atas penghasilan mereka.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Siap-siap, orang kaya AS akan kena pajak hingga 43,4%

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Hingga April 2024, Jumlah Investor Kripto di Indonesia Tembus 20,16 Juta

Hingga April 2024, Jumlah Investor Kripto di Indonesia Tembus 20,16 Juta

Whats New
KA Banyubiru Layani Penumpang di Stasiun Telawa Boyolali Mulai 1 Juni 2024

KA Banyubiru Layani Penumpang di Stasiun Telawa Boyolali Mulai 1 Juni 2024

Whats New
Ekonom: Iuran Tapera Tak Bisa Disamakan Dengan BPJS

Ekonom: Iuran Tapera Tak Bisa Disamakan Dengan BPJS

Whats New
Pertamina-Medco Tambah Aliran Gas ke Kilang LNG Mini Pertama di RI

Pertamina-Medco Tambah Aliran Gas ke Kilang LNG Mini Pertama di RI

Whats New
Strategi Industri Asuransi Tetap Bertahan saat Jumlah Klaim Kian Meningkat

Strategi Industri Asuransi Tetap Bertahan saat Jumlah Klaim Kian Meningkat

Whats New
Baru Sebulan Diangkat, Komisaris Independen Bank Raya Mundur

Baru Sebulan Diangkat, Komisaris Independen Bank Raya Mundur

Whats New
Integrasi Infrastruktur Gas Bumi Makin Efektif dan Efisien Berkat Inovasi Teknologi

Integrasi Infrastruktur Gas Bumi Makin Efektif dan Efisien Berkat Inovasi Teknologi

Whats New
CEO Singapore Airlines Ucapkan Terima Kasih ke Staf Usai Insiden Turbulensi

CEO Singapore Airlines Ucapkan Terima Kasih ke Staf Usai Insiden Turbulensi

Whats New
BTN-Kadin Garap Pembiayaan 31 Kawasan Industri di Jabar

BTN-Kadin Garap Pembiayaan 31 Kawasan Industri di Jabar

Whats New
Pembiayaan Baru BNI Finance Rp 1,49 Triliun pada Kuartal I 2024, Naik 433 Persen

Pembiayaan Baru BNI Finance Rp 1,49 Triliun pada Kuartal I 2024, Naik 433 Persen

Whats New
Asosiasi Pekerja Tolak Pemotongan Gaji untuk Iuran Tapera

Asosiasi Pekerja Tolak Pemotongan Gaji untuk Iuran Tapera

Whats New
TRON Hadirkan Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Kebutuhan Bisnis dan Logistik

TRON Hadirkan Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Kebutuhan Bisnis dan Logistik

Whats New
Asosiasi: Permendag 8/2024 Bikin RI Kebanjiran Produk Garmen dan Tekstil Jadi

Asosiasi: Permendag 8/2024 Bikin RI Kebanjiran Produk Garmen dan Tekstil Jadi

Whats New
Dewan Periklanan Indonesia: RPP Kesehatan Bisa Picu PHK di Industri Kreatif dan Media

Dewan Periklanan Indonesia: RPP Kesehatan Bisa Picu PHK di Industri Kreatif dan Media

Whats New
Pekerja Wajib Ikut Iuran Tapera, Ekonom: Lebih Baik Opsional

Pekerja Wajib Ikut Iuran Tapera, Ekonom: Lebih Baik Opsional

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com