Kompas.com - 21/10/2021, 21:02 WIB
Startup eCommerce Bukalapak ANTARA FOTO/Aprillio AkbarStartup eCommerce Bukalapak
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bukalapak.com (BUKA) sudah mencatatkan perusahaannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Agustus 2021. Sejak itu, harga saham BUKA cenderung mengalami penurunan harga.

Pada Kamis (21/10/2021), BUKA ditutup turun 0,7 persen di level Rp 685 per saham, jauh di bawah harga IPO Rp 850 per saham.

Lalu, bagaimana dengan prospek saham BUKA hingga akhir tahun?

Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengungkapkan, perusahaan teknologi, seperti BUKA membutuhkan waktu untuk berkembang. Di sisi lain, ia menilai saham BUKA memang merupakan salah satu saham yang penuh dengan kontroversi, bahkan sejak sebelum listing.

Baca juga: Aturan Wajib Tes PCR Penumpang Pesawat Berlaku Mulai 24 Oktober 2021

“Bicara terkait dengan BUKA, ini salah satu saham yang penuh dengan kontroversi sebetulnya, bahkan sebelum listing saja, banyak yang mengatakan ‘saham rugi kok dibeli’. Pun demikian dengan financial modeling-nya,"  ujar Maximilianus kepada Kompas.com, Kamis (21/10/2021).

"Tapi kami melihat, inilah yang terjadi ketika kita bicara new economy, perusahaan digital atau teknologi tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikt untuk berkembang,” sambungnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Maximilianus mengungkapkan, masuknya investor ke BUKA membuktikan ada harapan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Hal ini kata dia, ditambah lagi dengan minat perusahaan pemerintah Singapura memborong saham BUKA Rp 1,4 triliun.

“Kalaupun ternyata BUKA terus menerus merugi, dan tidak menunjukkan pertumbuhan. Kami yakin tidak ada investor satupun yang mau membeli. Tapi toh sampai hari ini terus ada investor yang masuk, terakhir pemerintah Singapura yang menambah kepemilikan. Artinya mereka melihat potensi BUKA di masa depan,” ujar Maximilianus.

Baca juga: Menilik Pentingnya Asuransi Bagi Generasi Sandwich

Maximilianus menilai saham BUKA masih memiliki peluang untuk naik. Apalagi, perseroan saat ini tengah fokus mengubah toko offline menjadi online. Inilah yang tidak dimiliki beberapa pesaing di sektor e-commerce.

"Sampai akhir tahun, BUKA kami proyeksikan bisa tembus Rp 1.200,” ucap Maximilianus.

Sebelumnya, CFP Perencana Keuangan Finansialku Gembong Suwito mengungkapkan, jika BUKA mengalami peningkatan dalam kinerja keuangan dan memiliki profit dari bisnisnya, maka akan semakin menarik daya beli investor.

“Karena saat ini konsen investor terhadap BUKA masih terkait laporan keuangan dan kinerja bisnis BUKA. Walaupun kondisi fundamental dan teknikal cenderung turun, level harga masih di kisaran 650 untuk support dan 900 untuk resisten tahun ini,” ujar Gembong.

Baca juga: Satpam BCA Sempat Trending Topic, Dirut: Mereka Ujung Tombak Pelayanan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.