Kompas.com - 11/05/2022, 17:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengungkapkan, saat ini pembiayaan untuk ekonomi hijau masih terbatas.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, dalam mendorong ekonomi hijau, masalah pembiayaan masih menjadi tantangan.

"Kebutuhan (pembiayaan hijau) ada tetapi kuantitas pembiayaan dan variasi pembiayaannya masih terbatas," kata dia dalam Green Economy Indonesia Summit 2022, Rabu (11/5/2022).

Baca juga: Manfaat Transisi Ekonomi Hijau bagi UMKM: Buka Peluang Usaha Baru hingga Kesempatan Ekspor

Ia menambahkan, saat ini masih banyak perusahaan pembiayaan yang enggan untuk menyalurkan pembiayaan pada proyek hijau. Hal ini lantaran proyek hijau masih dianggap memiliki risiko tinggi.

Selain itu, tidak adanya insentif khusus juga membuat perusahaan pembiayaan enggan untuk membiayai proyek hijau.

"Padahal, di tingkat global skema pembiayaan seperti modal ventura untuk ekonomi hijau sudah muncul dan menyediankan dana dana yang lebih murah baik bentuk pinjaman maupun ekuitas," papar dia.

Baca juga: Wamenkeu: Perbankan Bakal Lebih Selektif, Hanya Berikan Kredit buat Ekonomi Hijau

Berdasarkan data yang ia miliki, saat ini kebutuhan pembiayaan hijau telah mencapai 281 miliar dollar AS. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menyadarkan berbagai pihak akan pentingnya mendorong ekonomi hijau ini.

"Kita harus mendorong literasi dan kesadaran yang saat ini masih terbatas, baik dari literasi kepada masyarakat umum maupun pada pangusaha," imbuh dia.

Baca juga: Jika Tak Terapkan Ekonomi Hijau, Indonesia Sulit Jadi Negara Maju 2045

Selain itu, ia juga akan berusaha untuk menerapkan ekonomi hijau tidak hanya di sektor publik, tetapi juga di sektor industri jasa swasta. Kemudian, ia berharap terciptanya ekosistem ekonomi hijau di Indonesia.

Dengan demikian, harapannya Indonesia dapat menjadi pemain besar dalam mendukung produk-produk hijau.

"Sehingga, Indonesia dapat menjadi eksportir dari green product, yang memang saat ini sudah jadi permintaan di pasar luar, yakni produk dan jasa hijau," tutup dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.