Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Elon Musk Tolak Pengenaan Tarif 100 Persen untuk Kendaraan Listrik China

Kompas.com - 24/05/2024, 19:10 WIB
Filipi Jhonatan Partogi Situmorang,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

Sumber CNBC

NEW YORK, KOMPAS.com - Chief Executive Officer (CEO) Tesla Elon Musk kembali menjadi sorotan setelah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, terkait pengenaan tarif 100 persen untuk impor kendaraan listrik (EV) buatan China.

Dikutip dari CNBC, Jumat (24/5/2024) Musk dengan tegas menyatakan bahwa baik dirinya maupun Tesla tidak meminta tarif tersebut.

"Tesla bersaing dengan cukup baik di pasar China tanpa tarif dan tanpa dukungan khusus, Tesla tidak membutuhkan tarif,” ujar Musk.

Baca juga: Elon Musk PHK 600 Karyawan Tesla

Musk menambahkan, dirinya mendukung kebijakan perdagangan bebas tanpa tarif dan insentif pajak, baik untuk kendaraan listrik maupun industri minyak dan gas.

Langkah Biden untuk memberlakukan tarif 100 persen ini dimaksudkan untuk mencegah membanjirnya kendaraan listrik murah dari China yang didukung oleh subsidi pemerintah Beijing.

Pemerintah AS berargumentasi bahwa subsidi tersebut membuat perusahaan-perusahaan China mampu memproduksi kendaraan listrik dengan biaya rendah yang melampaui permintaan domestik negeri Tirai Bambu tersebut, sehingga mengancam produsen lokal di Amerika.

Tahun 2024 sendiri menjadi tantangan tersendiri bagi Tesla. Perusahaan ini mengalami penurunan pendapatan terbesar sejak tahun 2012 pada kuartal pertama, dengan harga saham turun hampir 30 persen sepanjang tahun 2024.

Faktor utama yang mempengaruhi kinerja Tesla termasuk armada kendaraan listrik yang sudah mulai usang, lemahnya permintaan konsumen, dan meningkatnya persaingan global, khususnya dari produsen China.

Dalam pernyataan sebelumnya di awal tahun ini, Musk mengakui keunggulan kompetitif produsen kendaraan listrik China.

"Sejujurnya, saya pikir, jika tidak ada hambatan perdagangan yang didirikan, mereka akan menghancurkan sebagian besar perusahaan lain di dunia," kata Musk.

Pernyataan Musk ini memicu beragam reaksi dari berbagai kalangan. Beberapa pengamat industri memandang sikap Musk sebagai upaya untuk mempertahankan fleksibilitas bisnis Tesla di pasar global, sementara yang lain melihatnya sebagai kritik terhadap kebijakan proteksionis yang dapat menghambat inovasi dan persaingan.

Bagi masyarakat Indonesia, yang semakin tertarik dengan perkembangan teknologi kendaraan listrik, pernyataan Musk ini menunjukkan betapa dinamisnya persaingan di industri ini dan bagaimana keputusan kebijakan perdagangan internasional dapat mempengaruhi pasar global.

Ke depan, perkembangan ini patut dicermati karena dapat memberikan dampak pada strategi produsen kendaraan listrik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca juga: Elon Musk Sebut AI Bakal Ambil Alih Semua Pekerjaan Manusia

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Work Smart
PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

Whats New
Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Whats New
Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Whats New
Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Whats New
Bos Superbank Akui Selektif  Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat 'Fintech Lending'

Bos Superbank Akui Selektif Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat "Fintech Lending"

Whats New
Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Whats New
Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Whats New
Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Whats New
Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Whats New
Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Whats New
Masyarakat Kini Bisa Buka Rekening Superbank via Aplikasi Grab

Masyarakat Kini Bisa Buka Rekening Superbank via Aplikasi Grab

Whats New
Kemenkop-UKM Ingatkan Pentingnya Pengawasan Penggunaan QRIS

Kemenkop-UKM Ingatkan Pentingnya Pengawasan Penggunaan QRIS

Whats New
OJK Sebut Porsi Pembiayaan Bank Lewat 'Fintech Lending' Masih Rendah

OJK Sebut Porsi Pembiayaan Bank Lewat "Fintech Lending" Masih Rendah

Whats New
Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk Lulusan SMA-S1, Simak Persyaratannya

Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk Lulusan SMA-S1, Simak Persyaratannya

Work Smart
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com