Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Kemungkinan BI Bakal Naikkan Suku Bunga Acuan?

Kompas.com - 08/08/2022, 19:15 WIB
Yohana Artha Uly,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan di level yang rendah yakni 3,5 persen di tengah tren bank sentral negara-negara maju agresif menaikkan suku bunga. Meski demikian, ada kemungkinan untuk BI sewaktu-waktu menaikkan suku bunganya.

Kepala Ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anton Hendranata menilai, BI berpotensi besar menaikkan suku bunga acuannya ketika inflasi inti sudah menyentuh level 3 persen. Adapun per Juli 2022 inflasi inti tercatat 2,86 persen (year on year/yoy).

"Perlu dipertimbangkan juga inflasi intinya, kalau misalnya mendekati 3 persen maka suka atau tidak suka rasanya BI harus merespons kenaikan suku bunga acuan," ujarnya dalam acara media briefing BKF Kemenkeu, Senin (8/8/2022).

Baca juga: Airlangga Harap BI Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga Acuan

Selain itu, yang juga jadi pertimbangan untuk BI menaikkan suku bunga adalah semakin mengecilnya gap interest rate differential antara suku bunga BI dan Bank Sentral AS atau The Fed. Saat ini suku bunga BI di 3,5 persen, sementara suku bunga The Fed di 2,25 persen-2,5 persen.

Ia mengatakan, gap yang semakin menipis itu membuat nilai tukar rupiah melemah. Seperti diketahui, kenaikan suku bunga di negara-negara maju berpotensi membuat para pemilik dolar AS lebih memilih menyimpan dananya di bank luar negeri, ketimbang di Indonesia.

Menurutnya, saat ini memang kurs rupiah masih 'manageable' di bawah Rp 15.000 per dollar AS, namun jika gap interest rate BI dan The Fed semakin menipis maka akan semakin memberi tekanan pada rupiah.

"Ini bisa menambah tekanan depresiasi rupiah secara persistent dalam beberapa periode yang akan datang. Saya kira ini perlu diperhatikan dengan baik," ucapnya.

Baca juga: Inflasi Terjaga, BI Dinilai Tak Perlu Buru-buru Naikkan Suku Bunga

Jika pada akhirnya BI menaikkan suku bunga acuan karena dorongan sejumlah faktor, kata Anton, itu merupakan kebijakan yang wajar. Ia bahkan menilai, langkah BI menaikkan suku bunga sudah tentu bukan untuk mengorbankan kinerja positif pertumbuhan ekonomi RI.

"Saya pikir wajar-wajar saja kalau seandainya BI terpaksa harus menaikkan subung acuannya, itu bukan berarti mengorbakan pertumbuhan ekonomi yang sudah semakin baik, karena di globalnya pun (kenaikan suku bunga) jauh lebih agresif," jelas dia.

Selain itu, ia menambahkan, kenaikan suku bunga BI juga tak perlu dikhawatirkan berlebihan dampaknya terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Menurutnya, pengaruh suku bunga terhadap pertumbuhan kredit relatif kecil.

"Kalau seandainya BI menaikkan suku bunga, saya pikir tidak perlu khawatir berlebihan karena ternyata variabel yang paling sensitif mempengaruhi pertumbuhan kredit adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat, suku bunga ada pengaruhnya tapi relatif kecil," tutup Anton.

Baca juga: The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga, Bagaimana dengan Indonesia?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Gelar RUPST, Astra Tetapkan Direksi dan Komisaris Baru

Gelar RUPST, Astra Tetapkan Direksi dan Komisaris Baru

Whats New
Emiten Sawit BWPT Catat Pertumbuhan Laba Bersih 364 Persen pada Kuartal I-2024

Emiten Sawit BWPT Catat Pertumbuhan Laba Bersih 364 Persen pada Kuartal I-2024

Whats New
Ekonom: Investasi Apple dan Microsoft Bisa Jadi Peluang RI Tingkatkan Partisipasi di Rantai Pasok Global

Ekonom: Investasi Apple dan Microsoft Bisa Jadi Peluang RI Tingkatkan Partisipasi di Rantai Pasok Global

Whats New
Kemenko Perekonomian Buka Lowongan Kerja hingga 2 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

Kemenko Perekonomian Buka Lowongan Kerja hingga 2 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

Work Smart
Gapki: Ekspor Minyak Sawit Turun 26,48 Persen Per Februari 2024

Gapki: Ekspor Minyak Sawit Turun 26,48 Persen Per Februari 2024

Whats New
MPMX Cetak Pendapatan Rp 3,9 Triliun pada Kuartal I 2024, Ini Penopangnya

MPMX Cetak Pendapatan Rp 3,9 Triliun pada Kuartal I 2024, Ini Penopangnya

Whats New
Allianz Syariah: Premi Mahal Bakal Buat Penetrasi Asuransi Stagnan

Allianz Syariah: Premi Mahal Bakal Buat Penetrasi Asuransi Stagnan

Whats New
Holding Ultra Mikro Pastikan Tak Menaikkan Bunga Kredit

Holding Ultra Mikro Pastikan Tak Menaikkan Bunga Kredit

Whats New
Menteri Teten: Warung Madura di Semua Daerah Boleh Buka 24 Jam

Menteri Teten: Warung Madura di Semua Daerah Boleh Buka 24 Jam

Whats New
Bangun Ekosistem Energi Baru di Indonesia, IBC Gandeng 7 BUMN

Bangun Ekosistem Energi Baru di Indonesia, IBC Gandeng 7 BUMN

Whats New
Apple hingga Microsoft Investasi di RI, Pengamat: Jangan Sampai Kita Hanya Dijadikan Pasar

Apple hingga Microsoft Investasi di RI, Pengamat: Jangan Sampai Kita Hanya Dijadikan Pasar

Whats New
Bank DKI Raup Laba Bersih Rp 187 Miliar pada Kuartal I 2024

Bank DKI Raup Laba Bersih Rp 187 Miliar pada Kuartal I 2024

Whats New
Mendag Zulhas Terbitkan Aturan Baru Soal Batasan Impor, Ini Rinciannya

Mendag Zulhas Terbitkan Aturan Baru Soal Batasan Impor, Ini Rinciannya

Whats New
Microsoft Komitmen Berinvestasi di RI Senilai Rp 27,54 Triliun, Buat Apa Saja?

Microsoft Komitmen Berinvestasi di RI Senilai Rp 27,54 Triliun, Buat Apa Saja?

Whats New
Allianz Syariah Tawarkan Asuransi Persiapan Warisan Keluarga Muda, Simak Manfaatnya

Allianz Syariah Tawarkan Asuransi Persiapan Warisan Keluarga Muda, Simak Manfaatnya

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com