Ini 10 Isu Ekonomi yang Harus Diperhatikan dalam Debat Capres Terakhir

Kompas.com - 11/04/2019, 17:18 WIB
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak ACapres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menyelenggarakan debat kelima untuk pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 dan 02, Joko Widodo-Ma'ruf Amin serta Prabowo-Sandiaga Uno dengan tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi, serta Perdagangan dan lndustri. 

Ekonom Senior Institute fpr Development of Economics and Finance (INDEF) M Nawir Messi mengatakan setidaknya terdapat 10 isu yang harus menjadi perhatian dalam debat pamungkas tersebut.

Kesepuluh isu tersebut terkait masalah pertumbuhan ekonomi hingga inkonsistensi kebijakan subsidi energi.

"Kalau kita bicara kualitas pertumbuhan, saya kira kuantitas dan kualitas pertumbuhan lima tahun ke depan harus jadi fokus," ujar Nawir di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Baca juga: Debat soal Ekonomi, Jokowi Siapkan Amunisi dan Tameng

Perkara pertumbuhan ekonomi, tak hanya soal risiko Indonesia terjebak dalam middle income trap, tetapi juga masih adanya ketimpangan pembangunan yang tercermin dari kontribusi pulau Jawa terhadap pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) yang cendrung tak berubah.

Lima tahun lalu (2014) porsi Jawa terhadap PDB sudah mencapai 57,4 persen, saat ini (2018) porsi Pulau Jawa justru naik menjadi 58,48 persen.

"lni menggambarkan bahwa pembangunan masih Jawa sentris," ujar Nawir.

Baca juga: Berinovasi dan Keluar dari “Middle Income Trap”

Isu kedua adalah daya beli yang tidak tergugah, saat inflasi cenderung rendah. Tren inflasi rendah yang terjadi saat ini, yaitu sebesar 2,48 persen secara tahunan (yoy) per Maret 2019 tidak mampu menstimulasi kegiatan ekonomi terutama konsumsi.

"Hal ini terjadi karena seiring melandainya inflasi, pertumbuhan konsumsi juga mengalami stagnansi,"ujar Nawir.

Hal ketiga, Indonesia masih kalah dalam mengungkit daya saing jika dibandingkan dengan negara kawasan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X