Akibat Corona, Pendapatan Perusahaan AS dan Eropa di China Diprediksi Anjlok hingga 50 Persen

Kompas.com - 29/02/2020, 15:42 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

BEIJING, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil survei bisnis asing yang dirilis pekan ini menunjukkan, banyak orang di China yang masih belum kembali bekerja.

Hal tersebut utamanya terjadi di pabrik-pabrik industri asing yang beroperasi di China. Dengan demikian, maka berisiko meningkatkan kerugian pendapatan akibat virus corona yang telah menewaskan lebih dari 2.700 orang di negara tersebut.

Seperti dilansir dari CNBC, wabah virus corona telah membuat lebih dari setengah perekonomian di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu memperpanjang masa penutupan produksi sejak Tahun Baru Imlek setidaknya satu minggu.

Baca juga: Akibat Corona, Pembukaan Penerbangan dari China ke Belitung Tertunda

Namun demikian, untuk memperkecil potensi persebaran virus, otoritas setempat pun menghimbau masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang di satu tempat.

Beberapa kota seperti Beijing bahkan telah memberlakukan aturan karantina selama 14 hari untuk orang-orang yang baru saja kembali dari kota lain di negara tersebut.

Gangguan arus perjalanan, yang terjadi baik untuk arus perjalanan manusia maupun barang merupakan tantangan utama bagi perusahaan asing di China saat ini.

Ketua Kamar Dagang AS yang berbasis di Beijing Greg Gilligan pun mengatakan, masih banyak orang yang memilih untuk tinggal di beberapa kota yang tersebar di China dan tidak bisa kembali ke tempat tinggal mereka.

Baca juga: BI: Modal Asing Keluar dari Indonesia Rp 30,8 Triliun akibat Sentimen Corona

Sebagian besar dari 169 perusahaan yang merespon survei yang dilakukan oleh kamar dagang setempat menilai masih terlalu awal bagi mereka untuk bisa memutuskan besaran kerugian dari penangguhan produksi tersebut.

Adapun 10 persen di antaranya menilai, kerugian akibat virus corona yang membuat rantai produksi nyaris mati di Negeri Tirai Bambu itu bisa mencapai 71.400 dollar AS atau setara dengan Rp 999,6 miliar per hari (kurs Rp 14.000).

Secara lebih rinci, Kamar Dagang Amerika Serikat untuk Beijing menilai, jika bisnis mereka bisa kembali berjalan normal per 30 April, maka hampir separuh dari proyeksi pendapatan mereka di China bakal terkikis. Namun jika ancaman virus tersebut bakal terus berlangsung hingga 30 Agustus, para pengusaha yang menjadi responden survei menilai lebih dari 50 persen pendapatan mereka jeblok.

Adapun Kamar Dagang Jerman dan Uni Eropa di China (577 responden) menilai pendapatan perusahaan asing di China bakal merosot di kisaran double digit, dengan perkiraan dalam satu kuartal pendapatan perusahaan bisa terperosok lebih dari 20 persen.

Baca juga: Rupiah Terkapar, Ekonom: Kini Investor Yakin Corona Tak Mudah Diatasi

Untuk Kamar Dagang Inggris pun memiliki proyeksi yang sama.

Sementara pemerintah China sendiri memiliki gambaran yang beragam mengenai waktu kembali bekerja untuk beberapa perusahaan.

Misalnya saja, untuk perusahaan-perusahaan besar dan penting seperti perusahaan produksi makanan, bakal memiliki tingkat kembali bekerja yang lebih tinggi. Meski secara keseluruhan hampir seluruh industri tengah tertatih-tatih di tengah wabah virus corona yang menginfeksi puluhan ribu jiwa di seluruh dunia.

Pada hari Rabu (26/2/2020) lalu, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi dalam penilitiannya mengenai perusahaan kecil dan menengah menyatakan secara keseluruhan, 32,8 persen pekerja telah kembali beraktifitas, naik 3,2 poin persentase dari hari Minggu (23/2/2020).

Baca juga: BI Sebut Pengaruh Corona ke Pelemahan Rupiah Tak Sebesar Negara Lain

Adapun untuk bisnis manufaktur dalam skala yang lebih kecil, sebanyak 43,1 persen pekerja kembali beraktifitas atau naik 6,2 persen dari periode Minggu.

Adapun untuk tujuh provinsi lain yang tak disebutkan namanya, kecenderungan untuk kembali bekerja mencapai setidaknya 40 persen.

Pada hari Selasa, Departemen Perhubungan setempat mengungkapkan tingkat kembali bekerja untuk beberapa proyek konstruksi paling tinggi sebesar 50 persen, dan hanya 25,9 persen untuk layanan penerbangan sipil.

Baca juga: Bursa AS Anjlok Dilanda Kekhawatiran Virus Corona

Baca tentang


Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Zoom Kucurkan 100 Juta Dollar ke Aplikasi yang yang Gunakan Teknologinya

Zoom Kucurkan 100 Juta Dollar ke Aplikasi yang yang Gunakan Teknologinya

Whats New
PTPN III Rampungkan Proses Restrukturisasi Senilai Rp 41 Triliun

PTPN III Rampungkan Proses Restrukturisasi Senilai Rp 41 Triliun

Rilis
Bank Hana Fasilitasi Green Loan Chandra Asri Sebesar Rp 188,5 Miliar

Bank Hana Fasilitasi Green Loan Chandra Asri Sebesar Rp 188,5 Miliar

Whats New
AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

Whats New
Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Whats New
Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Smartpreneur
Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Whats New
Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Whats New
Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Whats New
Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Whats New
OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

Whats New
Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Whats New
Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Whats New
Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] 'Reading Habit' pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] "Reading Habit" pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X