Utang 500 Juta Dollar AS Segera Jatuh Tempo, Garuda Minta Relaksasi

Kompas.com - 29/04/2020, 21:11 WIB
Ilustrasi ShuterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk meminta relaksasi keuangan kepada pihak perbankan guna menghadapi utang yang segera jatuh tempo.

Direktur Utama Garuda Indonesai Irfan Setiaputra mengakui, pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan keras terhadap keuangan perseroan.

Padahal, maskapai plat merah tersebut memiliki utang sebesar 500 juta dollar AS yang akan jatuh tempo pada Juni 2020.

"Kami ada sedikit masalah mungkin publik juga tahu kalau kami ada jatuh tempo utang sekitar 500 juta dolar AS sehingga kami butuh bantuan keuangan relaksasi dari perbankan," ujar Irfan dalam rapat dengar pendapat virtual Komisi VI DPR RI, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: Dirut Garuda: Mohon Maaf Hari Ini Bapak Ibu, Tak Bisa Lagi Terlalu Melihat Wajah Pramugari Kami

Selain itu, Irfan meminta kepada pemerintah untuk memberikan fasilitas perpajakan atau tax holiday. Sebab menurut dia, sektor transportasi udara adalah salah satu yang paling terdampak keuangannya akibat pandemi Covid-19.

Untuk menjaga anggaran perseroan di tengah pandemi ini, Irfan menyebutkan pihaknya sudah melakukan berbagai macam efisiensi, seperti diantaranya penundaan pembayaran gaji karyawan, direksi, dan komisaris.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi kami commit untuk tetap berikan THR meskipun menteri BUMN sudah keluarkan imbauan untuk tidak membayar THR bagi direksi dan komisaris," tuturnya.

Kemudian, Garuda berencana melakukan negoisasi ulang pembayaran sewa pesawat dengan pihak penyewa pengguna usaha atau lessor. Irfan menilai harga sewa pesawat yang diterima saat ini lebih mahal ketimbang pada umumnya.

"Kondisi Covid-19 memungkinkan kita rekonstruksi sewa menyewa pesawat ini. Kita menenggarai bahwa harga sewa kita terlalu tinggi," ujarnya.

Salah satu contoh jenis pesawat yang membebani anggaran keuangan Garuda adalah Boeing 777. Dimana setiap bulannya Garuda harus membayar sewa sebesar 1,6 juta dollar AS ata atau setara Rp 25 miliar (asumsi kurs Rp 15.500).

Padahal, harga sewa pesawat Boeing 777 di pasaran saat ini ialah 800.000 dollar AS per unit setiap bulannya.

"Kita punya 10 unit, jadi basically bayar 2 kali lipat dari harga market," ucapnya.

Baca juga: Cerita Bos Garuda soal Sewa Pesawat yang Terlalu Mahal

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.