Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Chappy Hakim
KSAU 2002-2005

Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Saatnya Menguasai Kembali Pasar Penerbangan Domestik

Kompas.com - 23/09/2020, 14:41 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

WABAH Covid-19 yang muncul diakhir tahun 2019 dari kota Wuhan, telah menyebar demikian cepat ke seluruh dunia. Hal itu membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan corona virus Covid-19 sebagai pandemi pada Rabu 11 Maret 2020.

Dampak pandemi yang sangat luar biasa ini telah menghantam hampir setiap aspek kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Salah satu sektor yang paling parah menderita adalah industri penerbangan dalam hal ini maskapai penerbangan dan pabrik pesawat terbang.

Dengan merebaknya Pandemi Covid-19, maka diberlakukanlah protokol kesehatan yang antara lain berupa ketentuan memakai masker, menjaga jarak dan sering cuci tangan. Dengan merebaknya Pandemi Covid-19 ini, maka banyak negara melakukan lockdown sebagai salah satu langkah pencegahan yang dinilai efektif.

Diberlakukannya Protokol Kesehatan dan juga tindakan preventif lockdown telah mengakibatkan penerbangan internasional (International Air Traffic) jatuh bebas hingga mencapai angka 70 hingga 90 persen di bulan Juni yang lalu.

Pada perkembangannya kemudian, walau telah terjadi rebound beberapa waktu lalu, akan tetapi angka kejatuhan transportasi antar bangsa itu masih berada di atas 60  persen,  terutama sekali dalam sektor angkutan udara penumpang.

Pada sisi lainnya, ternyata transportasi kargo atau angkutan barang dan jenis pelayanan angkutan udara charter walau sempat terdampak, namun secara pelahan dan pasti justru menunjukkan trend yang cepat menuju normal kembali dengan sedikit kenaikan. Itulah yang terjadi pada kancah aktivitas dari sistem transportasi udara internasional.

Transportasi udara Indonesia

Berikutnya marilah kita tinjau sejenak situasi dan kondisi transportasi udara di Indonesia pada masa dua dekade terakhir. Pertumbuhan penumpang telah terjadi dengan sangat fantastis sejak awal tahun 2000-an.

Akan tetapi sayangnya pertumbuhan yang sangat cepat tersebut, walau telah menyumbangkan keuntungan besar pada perputaran roda ekonomi nasional, harus dibayar mahal dengan terjadinya demikian banyak kecelakaan dan bangkrutnya sejumlah maskapai penerbangan.

Beberapa adalah maskapai yang sudah lama berkiprah di tataran transportasi udara dalam negeri termasuk dalam jejaring penerbangan perintis.

Tidak itu saja, Indonesia harus menjalani era ketika National Aviation Safety berada pada kondisi yang dinilai tidak mampu comply dengan International Aviation Safety Standard.

Fenomena yang berlangsung itu, terjadi sekilas merupakan wujud dari sebuah perkembangan transportasi udara yang tumbuh dari bawah. Pertumbuhan bottom–up, yang dengan sendirinya adalah merupakan konsekuensi logis telah membuat regulator menjadi agak kedodoran dalam mengikuti gerak cepat perkembangan pasar.

Pada titik – titik tertentu bahkan di permukaan, regulator seakan terlihat “didikte” oleh pressure atau tekanan dari perkembangan pasar dan juga pada beberapa keinginan pihak investor. Hal yang biasa terjadi sebagai akibat cepatnya kemajuan teknologi penerbangan dan tajamnya persaingan dalam kancah perebutan segmen pasar angkutan transportasi udara.

Hal yang juga terjadi dan dialami FAA , Federal Aviation Administration dalam kasus B-737 Max 8 misalnya. Kredibilitas FAA sebagai otoritas penerbangan paling terpercaya sepanjang sejarah penerbangan global sempat dipertanyakan dunia.

Untungnya Pemerintah selaku regulator ternyata tetap dapat menampilkan kemampuan yang prima dalam mengelola dan mengendalikan setidaknya dua gejolak yang telah terjadi.

Ketika demikian banyak kecelakaan beruntun yang diikuti dengan tingkat keselamatan penerbangan Indonesia yang disorot berbagai pihak Internasional, pemerintah dengan sigap membentuk Tim Nasional Keselamatan dan Keamanan Transportasi yang telah dengan cepat beraksi dan mampu dalam waktu singkat menurunkan secara drastis angka dari tingkat kecelakaan pesawat terbang yang terjadi dikala itu.

Berikutnya, menyusul ditempatkannya Indonesia sebagai negara yang tidak mampu comply dengan International Aviation Safety Standard, pemerintah Indonesia dalam hal ini otoritas penerbangan nasional dengan bekerja keras. Kemudian berhasil keluar dari kemelut dan memposisikan kembali Indonesia sebagai negara yang berkemampuan untuk memenuhi persyaratan Civil Aviation Safety Regulation dari ICAO, International Civil Aviation Organization.

Tidak itu saja, performa otoritas penerbangan nasional pada hasil audit terakhir ICAO bahkan menunjukkan Indonesia telah berhasil dengan sukses mencapai nilai yang diatas rata-rata perolehan dunia pada aspek penyelenggaraan keselamatan penerbangan dalam acuan standar regulasi keselamatan penerbangan sipil internasional (International Civil Aviation Safety Regulation).

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com