OJK Yakin Sektor Jasa Keuangan Kian Membaik pada Akhir Tahun

Kompas.com - 28/10/2020, 06:53 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso memberikan keterangan kepada wartawan hasil rapat perdana DK OJK periode 2017-2022 di Jakarta, Kamis (20/7/2017).  Rapat tersebut memutuskan Wimboh sebagai ketua DK OJK, Nurhaida sebagai Wakil Ketua, Hoesen sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Heru Kristiyana sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Riswinandi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan NonBank, Ahmad Hidayat sebagai Ketua Dewan Audit, Tirta Segara sebagai Anggota Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Mirza Adityaswara sebagai Anggota Dewan Komisioner ex-officio Bank Indonesia dan Mardiasmo sebagai Anggota Dewan Komisioner ex-officio Kementerian Keuangan. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso memberikan keterangan kepada wartawan hasil rapat perdana DK OJK periode 2017-2022 di Jakarta, Kamis (20/7/2017). Rapat tersebut memutuskan Wimboh sebagai ketua DK OJK, Nurhaida sebagai Wakil Ketua, Hoesen sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Heru Kristiyana sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Riswinandi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan NonBank, Ahmad Hidayat sebagai Ketua Dewan Audit, Tirta Segara sebagai Anggota Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Mirza Adityaswara sebagai Anggota Dewan Komisioner ex-officio Bank Indonesia dan Mardiasmo sebagai Anggota Dewan Komisioner ex-officio Kementerian Keuangan.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) menyatakan sektor jasa keuangan berada dalam kondisi yang baik dan terkendali di masa pandemi Covid-19.

Hal tersebut ditunjukan oleh permodalan dan likuiditas yang memadai serta profil risiko yang masih terjaga. Pada Agustus 2020, rasio CAR terjaga di level cukup tinggi, yakni sebesar 23,39 persen dibanding kuartal II-2020 sebesar 22,5 persen.

"Permodalan tidak ada masalah. Ini cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit perbankan, sampai akhir tahun bisnis plan bank tumbuh 3 persen (yoy)," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam konferensi pers KSSK IV 2020 secara virtual, Selasa (27/10/2020).

Baca juga: Tak Dapat BLT UMKM, Ini Tips Mengembangkan Usaha lewat Tren

Sementara itu, kecukupan juga terjaga. Rasio AL/NCD per Oktober 2020 menguat jadi 153,6 persen dari sebelumnya 122,59 persen di akhir kuartal II-2020.

Di samping itu, rasio AL/DPK di level 32,88 persen, meningkat di banding kuartal II-2020 sebesar 26,24 persen. Rasio alat likuid atas DPK ini jauh di bawah tresshold minimum.

Lalu, DPK pada Agustus 2020 tumbuh sebesar 11,64 persen (yoy), meningkat dibanding akhir kuartal II 2020 sebesar 7,95 persen.

Peningkatan DPK masih didominasi oleh pertumbuhan DPK bank BUKU IV yang mencapai 15,26 persen (yoy). Peningkatan DPK bank BUKU IV didukung oleh penempatan dana yang dilakukan pemerintah.

"DPK masih ample, NPL slightly ada kenaikan tapi angka terakhir di bulan September sudah mulai turun sedikit. Pada Agustus NPL gross 3,22 persen, di kuartal II 2020 3,11 persen," ucap Wimboh.

Baca juga: Sudah Akhir Oktober, Kapan Subsidi Gaji Termin II Ditransfer?

Sementara NPF untuk perusahaan pembiayaan di level 5,23 persen, meningkat sedikit dibanding kuartal II 2020 di level 5,17 persen.

Adapun pasar modal mampu menghimpun dana mencapai Rp 92,2 triliun hingga tanggal 20 Oktober 2020. Tercatat ada 45 emiten baru dan 50 emiten melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) Rp 21,2 triliun.

Kredit tumbuh satu digit

OJK juga mencatat permintaan kredit belum pulih terlihat dari pertumbuhannya yang hanya mencapai satu digit, yakni sebesar 1,04 persen pada Agustus 2020.

Banyak para debitur meminta keringanan dengan mengajukan restrukturisasi kredit. Per 28 September 2020, program restrukturisasi kredit di perbankan telah mencapai Rp 904,3 triliun untuk 7,5 debitur.

Kemudian di perusahaan pembiayaan, restrukturisasi mencapai Rp 170,17 triliun untuk 4,6 juta kontrak per 29 September 2020.

"Namun, pertumbuhan secara bulanan (month to month/mtm) NPL sudah positif setelah terkontraksi cukup dalam pada April hingga Juni," papar Wimboh

Baca juga: Ini Masalah Rekening Bank yang Buat Pekerja Gagal Terima Subsidi Gaji

Dalam rangka mendorong pemulihan kredit, pemerintah menempatkan dana di bank sebesar Rp 47,5 triliun dan mendorong kredit Rp 166,39 triliun.

Sementara BPD telah menerima penempatan dana sebesar Rp 14 triliun yang mendorong penyaluran kredit Rp 17,39 triliun, dan bank syariah sebesar Rp 3 triliun yang disalurkan dalam bentuk kredit Rp 1,7 triliun.

"Dari pandangan kami, pada akhir tahun ini kondisinya akan lebih bagus dari saat-saat beberapa bulan terakhir," pungkasnya.

Baca juga: Kementerian BUMN Cari 1.000 Putra-Putri Papua untuk Bekerja di BUMN



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X