Harga Kedelai Mahal, Tahu dan Tempe Jadi Penyumbang Inflasi

Kompas.com - 04/01/2021, 17:15 WIB
Perajin membuat tahu di Krapayak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Sabtu (2/1/2021). Sejumlah perajin tahu di kawasan itu mengaku mengalami penurunan keuntungan sekitar 50 persen menyusul naiknya harga kedelai dari Rp7 ribu per kilogram menjadi Rp9 ribu per kilogram sejak beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Andreas Fitri AtmokoPerajin membuat tahu di Krapayak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Sabtu (2/1/2021). Sejumlah perajin tahu di kawasan itu mengaku mengalami penurunan keuntungan sekitar 50 persen menyusul naiknya harga kedelai dari Rp7 ribu per kilogram menjadi Rp9 ribu per kilogram sejak beberapa hari terakhir.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi inflasi atau kenaikan harga pada dua komoditas pangan berbahan dasar kedelai, yakni tahu dan tempe.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan tahu mentah alami tercatat mengalami inflasi sebesar 0,06 persen sementara untuk tahu mengalami inflasi sebesar 0,05 persen.

"Namun demikian, kedua komoditas tersebut memberi andil yang sangat kecil terhadap inflasi nasional," jelas Setianto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (4/1/2021).

Kenaikan harga tahu dan tempe terjadi lantaran harga kendelai yang melonjak sejak akhir tahun lalu.

Baca juga: Harga Mahal, Kementerian Pertanian Akan Genjot Produksi Kedelai Lokal

Harga kedelai saat ini sebesar Rp 9.300 per kilogram dari sebelumnya berkisar 7.200 per kilogram.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebelumnya mengatakan, harga kedelai yang meningkat di pasar global menjadi alasan dari mahalnya kedelai di dalam negeri.

Mengingat, sebagian besar pasokan kedelai dalam negeri memang berasal dari impor. Kenaikan harga kedelai di pasar global sangat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, yang merupakan negara produsen utama kedelai.

Di sisi lain, adanya peningkatan permintaan kedelai di China, yang merupakan negara importir kedelai terbesar.

Menyikapi gejolak harga kedelai yang berimbas ke dalam negeri, Kementerian Pertanian telah berkordinasi dengan integrator, pengembang kedelai, serta unit kerja di kementerian dan lembaga terkait untuk menggenjot produksi kedelai lokal.

Baca juga: Mengingat Lagi Janji Swasembada Kedelai di Periode Pertama Jokowi

Menurut Syahrul, dibutuhkan setidaknya 100 hari untuk satu kali masa tanam hingga panen kedelai.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X