Kabar Gembira, BRI Turunkan Suku Bunga Kredit untuk Semua Segmen

Kompas.com - 02/03/2021, 20:31 WIB
Gedung BRI dok BRIGedung BRI

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akhirnya kembali menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) untuk seluruh segmen sejak 28 Februari 2021.

Hal ini salah satunya menanggapi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-7DRRR) sebesar 25 bps menjadi 3,50 persen.

"Kebijakan penurunan suku bunga kredit yang dilakukan BRI ini merupakan bagian dari upaya untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional, seiring berlanjutnya tren penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia," kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam siaran pers, Selasa (2/3/2021).

Baca juga: Bank Sahabat Sampoerna Akan Kian Agresif Garap Digital Banking

Bila dirinci, penurunan suku bunga yang terjadi pada seluruh segmen, korporasi, ritel, mikro, KPR dan non-KPR berada pada rentang 150 basis poin (bps)-325 bps.

Penurunan SBDK terbesar diberikan pada kredit konsumer non-KPR sebesar 3,25 persen. Dengan penurunan ini, SBDK non-KPR berubah dari semula 12 persen menjadi 8,75 persen.

Selain itu, BRI menurunkan SBDK KPR sebesar 2,65 persen, dari 9,90 persen menjadi 7,25 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penurunan SBDK juga dilakukan untuk segmen mikro sebesar 2,5 persen. Perubahan ini membuat SBDK mikro turun dari 16,50 persen menjadi 14 persen.

Pada kredit segmen korporasi dan ritel, BRI melakukan penurunan SBDK masing-masing sebesar 1,95 persen dan 1,5 persen. Dengan demikian saat ini, SBDK korporasi berubah dari 9,95 persen menjadi 8 persen. Kemudian, SBDK segmen ritel berkurang dari 9,75 persen menjadi 8,25 persen.

Baca juga: Kemenaker: Upah Per Jam Diterapkan untuk Pekerja Paruh Waktu

Sebelumnya sepanjang 2020 lalu, bank bersandi saham BBRI ini telah menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps sampai 150 bps.

Khusus untuk restrukturisasi keringanan suku bunga, BRI menurunkan antara 300 bps hingga 500 bps.

Sunarso mengungkapkan, penurunan suku bunga bisa dilakukan karena beban biaya dana (cost of fund) menurun. Level efisiensi perbankan pun meningkat karena adanya peranan digital yang lebih masif.

Namun, menurut Sunarso, perubahan suku bunga kredit bukan menjadi satu-satunya variabel alias penentu besar atau kecilnya permintaan pembiayaan.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.