Kompas.com - 18/03/2021, 20:17 WIB
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyoroti rasio pajak (tax ratio) Indonesia yang cenderung rendah dibanding negara anggota G20.

Padahal di sisi lain, negara tengah menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk menangani pandemi.

Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurría mengatakan, Indonesia memiliki kepatuhan pajak yang buruk dan terlampau murah hati dalam memberikan pengecualian pajak.

Pemerintah Indonesia juga dinilai memiliki kecenderungan melakukan pengurangan perpajakan dalam jangkauan yang luas.

"Dengan kurang dari 8 juta orang yang membayak pajak penghasilan (PPh), artinya rasio perpajakan Indonesia terhadap PDB hanya 11,9 persen di tahun 2018, angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata negara OECD yang sebesar 34,3 persen," ujar Gurria ketika memberikan paparan secara virtual, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Tolak Holding Ultra Mikro, Pegawai Pegadaian Surati Jokowi

Ia pun menilai, usai perekonoian RI terlepas dari resesi, otoritas fiskal perlu lebih mendorong penerimaan perpajakan.

Salah satunya di sektor properti yang dinilai memiliki kontribusi cukup rendah, yakni hanya 2 persen dari keseluruhan pendapatan pajak. Jumlah tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata kontribusi sektor properti terhadap penerimaan perpajakan negara OECD yang mencapai 6 persen.

"Hal itu akan membantu untuk menyelesaikan masalah kesenjangan yang terjadi sekaligus memberikan kontribusi terhadap kondisi keuangan negara," jelas Gurria.

Ia juga mengatakan pemerintah perlu meningkatkan tarif pajak untuk beberapa sektor, salah satunya untuk produk tembakau dan memperluas basis perpajakan.

"Menutup celah dan meningkatkan kepatuhan terhadap pajak penjualan juga bisa menjadi salah satu cara untuk membantu menopang pendapatan," ujar Gurria.

Baca juga: OECD Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2021 4,9 Persen

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.