Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beban Listrik Jawa-Bali Mulai Naik, Tanda Ekonomi Bangkit Kembali

Kompas.com - 11/05/2021, 20:55 WIB
Yohana Artha Uly,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PLN (Persero) melihat mulai ada tren peningkatan beban listrik di empat bulan pertama tahun 2021. Meski lebih rendah dari sebelum masa pandemi, tetapi rata-rata kenaikan beban listrik lebih tinggi dari 2020.

Hal itu tecermin dari beban listrik di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, dan Bali PLN, Haryanto WS mengatakan, ada kenaikan rata-rata beban listrik baik di siang hari maupun malam hari.

Sebagai gambaran, kondisi beban puncak listrik di siang hari pada Januari 2019 sebesar 25.529 Megawatt (MW). Sementara pada Januari 2020 saat belum ada pandemi Covid-19, beban puncaknya lebih tinggi menjadi 26.737 MW.

Baca juga: Beban Puncak Listrik Naik Saat Lebaran, PLN Pastikan Pasokan Aman

Kemudian pada Januari 2021 saat sudah ada pandemi, beban puncak listrik di wilayah ini langsung turun menjadi 24.866 MW.

Begitu pula pada periode Februari, di mana beban puncak listrik di 2019 mencapai 26.486 MW, kemudian menjadi 26.257 MW di 2020 yang juga belum masuk masa pandemi. Serta kian menurun di 2020 menjadi 25.155 MW.

Pada periode Maret 2019 beban puncak listrik pun mencapai 25.675 MW. Sebelum masuknya pandemi atau hingga 15 Maret 2020 beban puncak listrik sebesar 26.668 MW, namun setelahnya beban puncak PLN terus menurun.

Meski demikian, beban puncak listrik pun mulai menunjukkan kenaikan pada Maret 2021 sebesar 26.209 MW.

"Meskipun masih lebih rendah dari yang 2020 tadi, tapi lebih tinggi dari 2019 sebelum pandemi. Ada kurang-lebih tambahan 600 MW, ini tanda-tanda yang baik bahwa ekonomi sudah mulai rebound atau bangkit kembali," ujar Haryanto dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/5/2021).

Peningkatan beban puncak pun terjadi di April 2021 yang mencapai 26.576 MW. Sebagai perbandingan, angka itu lebih tinggi dari April 2020 yang sebesar 24.153 MW, namun sedikit lebih rendah dari April 2019 yang sebesar 26.814 MW.

Baca juga: Diskon Tarif Listrik Dipangkas, Ini Langkah PLN Agar Pelanggan Tidak Kaget

Pada periode April 2021, beban puncak malam hari juga tercatat tinggi yakni sebesar 27.197 MW. Lebih tinggi dari April 2020 yang sebesar 23.955 MW maupun April 2019 yang sebesar 26.632 MW.

Haryanto menjelaskan, berdasarkan sebaran kelistrikan di wilayah Jamali, untuk pertumbuhan listrik di Jakarta memang cukup rendah atau tumbuh 9,6 persen di April 2021 dibandingkan April 2020.

Namun pada daerah Jawa Barat yang punya banyak kawasan industri, pertumbuhan listriknya cukup pesat yakni sebesar 15 persen di April 2021 dari periode sama di tahun lalu.

Pada Jawa Tengah, meski pertumbuhan listriknya masih mengandalkan konsumsi rumah tangga, namun kenaikan terasa 10 persen di April 2021 dibandingkan April 2020.

Sementara pada Jawa Timur, pertumbuhan listriknya paling rendah yakni 6 persen di April 2021 dari periode sama di tahun lalu.

Sayangnya, Bali tak mengalami pertumbuhan penggunaan listrik sebab penggeraknya adalah pariwisata, yang merupakan sektor paling terdampak pandemi Covid-19.

"Semuanya wilayah memang tumbuh, kecuali Bali. Jika dibandingkan April 2019 itu minus 20 persen, dan kalau dibandingkan April 2020 itu tetap minus," kata dia.

"Jadi kami masih terus memantau tren ke depan seperti apa. Kami masih terus menganalisis bagaimana kontribusi kenaikan ini dari segmen tarif. Tapi dari data umum kenaikan di rumah tangga akan terus tumbuh, industri juga naik," pungkas Haryanto.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Harga Emas Terbaru di Pegadaian 28 Mei 2024

Harga Emas Terbaru di Pegadaian 28 Mei 2024

Spend Smart
Wamenaker Ajak Negara Pasifik dan ASEAN Terus Berkolaborasi dalam Penggunaan TKA

Wamenaker Ajak Negara Pasifik dan ASEAN Terus Berkolaborasi dalam Penggunaan TKA

Whats New
Cara Hapus Daftar Transfer di BCA Mobile dan myBCA

Cara Hapus Daftar Transfer di BCA Mobile dan myBCA

Work Smart
Tingkatkan Kepercayaan Investor, PGAS Lunasi Sisa Obligasi Senilai 396 Juta Dollar AS

Tingkatkan Kepercayaan Investor, PGAS Lunasi Sisa Obligasi Senilai 396 Juta Dollar AS

Whats New
Simak Langkah Perencanaan Dana Pensiun Sejak Muda agar Saat Tua Tak Bebani Anak

Simak Langkah Perencanaan Dana Pensiun Sejak Muda agar Saat Tua Tak Bebani Anak

Earn Smart
IHSG Awal Sesi Tancap Gas, Rupiah Masih Lesu

IHSG Awal Sesi Tancap Gas, Rupiah Masih Lesu

Whats New
Harga Bahan Pokok Selasa 28 Mei 2024: Cabai Rawit Merah dan Daging Ayam Naik

Harga Bahan Pokok Selasa 28 Mei 2024: Cabai Rawit Merah dan Daging Ayam Naik

Whats New
Info Biaya Admin BNI Taplus Muda Per Bulannya

Info Biaya Admin BNI Taplus Muda Per Bulannya

Spend Smart
Harga Emas Antam Hari Ini 28 Mei 2024 Naik Rp 6.000, Simak Rinciannya

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Mei 2024 Naik Rp 6.000, Simak Rinciannya

Spend Smart
Temukan Indikasi Lazada Langgar Persaingan Usaha, KPPU Lakukan Penyelidikan

Temukan Indikasi Lazada Langgar Persaingan Usaha, KPPU Lakukan Penyelidikan

Whats New
Pemerintah Bakal Pangkas Subsidi Energi pada 2025? Ini Kata Sri Mulyani

Pemerintah Bakal Pangkas Subsidi Energi pada 2025? Ini Kata Sri Mulyani

Whats New
Simak, Ini Cara Ajukan Early Redemption Sukuk Tabungan ST010T2

Simak, Ini Cara Ajukan Early Redemption Sukuk Tabungan ST010T2

Whats New
Sekjen Kemenaker: Green Jobs Tak Bisa Dihindari dan Harus Jadi Prioritas

Sekjen Kemenaker: Green Jobs Tak Bisa Dihindari dan Harus Jadi Prioritas

Whats New
IHSG Berharap ke 'New Blue Chips', Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Berharap ke "New Blue Chips", Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Hasil Merger XL Axiata dan Smartfren Diproyeksi Akan Bernilai 3,5 Miliar Dollar AS

Hasil Merger XL Axiata dan Smartfren Diproyeksi Akan Bernilai 3,5 Miliar Dollar AS

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com