Air Diplomacy: Indonesian Airways “Bayar” Pajak dengan Kapal Terbang

Kompas.com - 09/06/2021, 18:38 WIB
Replika Indonesian Airways, Dakota RI-001 Seulawah. Pembelian pesawat ini pada 1948 menggunakan hasil patungan rakyat Aceh senilai 20 kilogram emas. KOMPAS/ARBAIN RAMBEYReplika Indonesian Airways, Dakota RI-001 Seulawah. Pembelian pesawat ini pada 1948 menggunakan hasil patungan rakyat Aceh senilai 20 kilogram emas.

PADA pertengahan tahun 1950, pemerintah Indonesia menghadapi sebuah masalah yang cukup serius dan dapat berpengaruh besar pada hubungan antar bangsa.

Ketika itu datang berita dari perwakilan Indonesian Airways di Rangoon, bahwa pemerintah Birma telah mengajukan kepada pemerintah Indonesia tagihan beban pajak yang harus dan belum dibayar oleh pihak Indonesian Airways selama beroperasi di Birma.

Seperti diketahui Indonesia dalam hal ini Indonesian Airways telah memulai operasi penerbangan sipil komersial pada awal tahun 1949 yang ber-home base” di Rangoon Birma.

Pengoperasian Indonesian Airways ini sebenarnya sama sekali tidak murni bertujuan komersial, karena yang dilakukan adalah menggalang dana untuk mendukung segenap upaya dalam usaha mempertahankan eksistensi kemerdekaan Indonesia.

Meminjam kata kata Air Commodore S. Suryadarma –KSAU pertama, Bapak AURI hal itu disebut sebagai: We have been flying our planes for patriotic purposes, and thus not for commercial ones.

Tentu saja tagihan pajak tersebut sangat mengagetkan pihak pemerintah Indonesia, karena sejauh diketahui dan selalu dipersepsikan bahwa Indonesian Airways dipandang sebagai alat perjuangan yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Birma. Lebih dari itu keberadaan dan peran Indonesian Airways juga sangat berguna bagi pemerintah Birma dalam mengatasi kesulitannya sendiri.

Baca juga: Garuda Indonesia Kembalikan Pesawat ke Penyewa, Call Sign Berubah dari PK ke VQ

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Demikianlah, maka KSAU Komodor Suryadarma mencari jalan keluar yang win–win sifatnya agar persoalan serius dan sensitif itu dapat selesai. Ide dari Komodor Suryadarma adalah menghibahkan satu pesawat terbang Indonesian Airways yaitu RI-007 untuk Angkatan Udara Birma lengkap dengan cadangan spare parts yang memang cukup banyak disiapkan di Rangoon.

Setelah melakukan komunikasi maraton dan intensif dengan pihak terkait di jajaran pemerintahan Birma terutama dengan Bo Ne Win, Supreme Commander of the Burmese Armed Forces maka akhirnya dapat disepakati usulan hibah sebuah pesawat Indonesian Airways R.I 007 untuk Angkatan Udara Burma.

Dengan hibah satu pesawat lengkap dengan seluruh cadangan spare parts-nya, maka proses tagihan pajak terhadap Indonesian Airways dapat dibatalkan.

Dalam tindak lanjutnya kemudian Sekretaris Jenderal Kementrian Pertahanan R.I Mr.Ali Budiardjo di bulan Oktober 1950 mengirim surat kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Dalam surat tersebut dijelaskan mengenai proses hibah pesawat dan penyelesaian tagihan pajak Indonesian Airways.

Baca juga: Wamen BUMN: Penyakit Masa Lalu Garuda Indonesia, Sewa Banyak Pesawat dan Mahal

 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.