Produksi Rokok Naik Jadi 177,6 Miliar Batang hingga Juli, Didominasi Jenis SKT

Kompas.com - 26/08/2021, 14:11 WIB
Ilustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau. SHUTTERSTOCK/Maren WinterIlustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren produksi rokok hingga Juli 2021 meningkat 2,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Per bulan ini, produksi rokok mencapai 177,66 miliar batang, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 172,92 miliar batang.

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Nirwala Dwi Heryanto, mengatakan, kenaikan tertinggi terjadi pada rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT).

Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tidak adanya kenaikan cukai rokok untuk SKT tahun 2021. Tahun ini, pemerintah hanya menaikkan cukai untuk rokok berjenis sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM).

Baca juga: Barang Tegahan Bea Cukai Tembus Rp 12,5 Triliun, Terbanyak Rokok Ilegal

"Dengan kebijakan tarif 2021, SKT 10,6 persen. Kenapa SKT tumbuh? Kita ketahui kebijakan tarif SKT tahun 2021 tidak naik alias nol persen," kata Nirwala dalam media briefing secara virtual di Jakarta, Kamis (26/8/2021).

Nirwala menjelaskan, produksi SKT naik dari 40,4 miliar batang menjadi 44,7 miliar batang. Produksi SKM tumbuh tipis 0,6 persen dari 125,8 miliar datang menjadi 126,6 miliar batang.

Sedangkan rokok jenis SPM turun -5,1 persen dengan produksi dari 6,7 miliar batang menjadi 6,3 miliar barang. Tahun ini, pemerintah menaikkan tarif cukai SPM golongan I sebesar 18,4 persen, golongan IIA 16,5 persen, dan IIB sebesar 18,1 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan golongan, produksi rokok golongan I -2,8 persen, sementara golongan II dan golongan III masing-masing tumbuh 16,2 persen dan 13,5 persen.

"Artinya kebijakan pemerintah dalam melindungi golongan II dan III berhasil karena di sini mereka tumbuh, tapi pengendalian tetap berjalan. Karena golongan I kontribusinya 85 persen untuk penerimaan cukai," ujar Nirwala.

Secara keseluruhan, produksi rokok setiap tahun menurun -2 persen sejak tahun 2015. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan tarif cukai rokok yang konsisten dilakukan pemerintah.

"Tapi tahun 2019 enggak naik (CHT), jadi wajar dong kalau produksi (rokok) naik karena targetnya. Ketika cukai naik tinggi tahun 2020, produksinya menurun. Ini pengendalian," jelas Nirwala.

Hingga Juli 2021, penerimaan cukai negara sudah mencapai 57,85 persen atau Rp 104,42 triliun dari target Rp 180 triliun. Sebanyak 95 persen dari penerimaan cukai didominasi oleh hasil tembakau.

Penerimaan cukai pun mendominasi penerimaan negara dari sisi bea cukai sebesar 80 persen.

Baca juga: Pengamat: Tarif Cukai Tak Naik, Industri Bisa Bernafas...

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.