Produksi Beras Bakal Surplus, Yakin Tak Perlu Impor Tahun Ini

Kompas.com - 03/07/2020, 08:40 WIB
Ilustrasi beras KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGIlustrasi beras

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengklaim pasokan beras dalam negeri cukup untuk menghindari krisis pangan dunia di masa pandemi Covid-19, yang telah diperingatkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO).

Kementerian Pertanian meyakini hingga akhir tahun produksi beras dalam negeri bisa surplus hingga 6 juta ton. Sehingga sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tak perlu mengimpor beras.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, pihaknya tengah menggenjot program percepatan musim tanam (MT) kedua dengan fokus pada 5,6 juta hektare dari 7,46 juta hektare lahan sawah. Fokus dilakukan pada lahan yang memiliki irigasi baik.

Baca juga: Bulog: Beras Bantuan dari Pemerintah Kelas Premium

Target produksi beras dari musim tanam kedua diperkirakan bisa mencapai 12,5 juta ton hingga 15 juta ton. Sementara, stok beras dalam negeri hingga Juni 2020 masih tersedia 7,49 juta ton.

Sehingga jika prduksi di musim panen kedua bisa mencapai 15 juta ton, maka stok beras bisa tembus 22 juta ton hingga akhir Desember 2020. Ini akan melebihi kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 15 juta ton hingga akhir tahun.

"Insya Allah kalau prognosis ini tidak ada halangan, maka akan terjadi surplus sekitar 5-6 juta ton beras, dan akan menjadi carry over untuk tahun depan," ungkap Syahrul dalam webinar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Kamis (2/7/2020).

Penghitungan ini semakin menguatkan pendapat Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso yang menyebut, Indonesia tidak perlu mengimpor beras hingga akhir tahun. Sekalipun ada ancaman krisis pangan dunia.

Buwas, sapaan akrabnya, meyakini produksi beras dalam negeri akan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir tahun.

Baca juga: Buwas Pede RI Tak Perlu Impor Beras Hingga Akhir Tahun

"Pengalaman saya dua tahun di Bulog, saya membuktikan selama kepemimpinan, kami tidak pernah mengimpor. Insya Allah sampai tahun ini tidak impor beras sebutir pun," kata dia.

Kendati demikian, ia mengakui, beras asal Indonesia memang masih kalah bersaing dengan beras impor, terutama dari segi harga.

Ini karena sistem budidaya pertanian di Indonesia masih konvensional, sehingga memakan biaya produksi yang besar. Sementara di luar negeri sudah menerapkan mekanisme yang lebih modern.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X