Menteri PPN: Silakan Bertamasya, tetapi Jangan Lupa Protokol Kesehatan

Kompas.com - 04/08/2020, 14:41 WIB
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/2/2020). KOMPAS.com/IhsanuddinKepala Bappenas Suharso Monoarfa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah telah membuka sektor pariwisata untuk membangkitkan perekonomian Indonesia yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Salah satunya yakni destinasi wisata di Bali.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, sejak dibuka untuk bisa dikunjungi wisatawan domestik pada akhir Juli lalu, Bali sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat guna mengantisipasi penularan Covid-19.

Oleh sebab itu, dia menilai masyarakat tak perlu takut berlebihan untuk memutuskan melakukan perjalanan wisata.

Baca juga: Curhat Menperin Dituduh sebagai Pembunuh Massal...

"Hal yang penting yang ingin kami pastikan ke seluruh masyarakat Indonesia, silakan bertamasya, tapi jangan lupa protokol kesehatan. Jadi jangan terlalu parno atau paranoid gitu. Tentu juga kita tetap harus waspada," ungkapnya dalam Online Talkshow #BaliBangkit, Selasa (4/8/2020).

Suharso mengatakan, Indonesia sudah pernah menghadapi wabah lainnya misalnya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kata dia, tingkat kasus DBD cukup tinggi dan hingga kini masih bisa ditemukan kasus infeksi virus dengue. Namun seiring waktu, masyarakat disebut bisa berdampingan hidup dengan DBD.

"Dulu juga Indonesia punya persoalan DBD, orang takut sekali kemana-mana karena ada nyamuk demam berdarah. Sekarang kita anggap biasa, padahal yang wafat karena DBD cukup tinggi," kata dia.

Baca juga: Lelang Rumah Murah di Bekasi, Mulai Rp 133 Juta

Selain itu, Suharso juga membandingkan dengan penyakit Tuberkulosis atau TBC. Saat ini, Indonesia menjadi negara ketiga dengan kasus TBC tertinggi.

Kondisi ini bahkan membuat mahasiswa Indonesia yang akan menempuh pendidikan di luar negeri perlu melaporkan memiliki riwayat TBC atau tidak.

Meski demikian, seiring berjalannya waktu pemerintah juga terus berusaha menekan kasus TBC di Indonesia. Namun, disisi lain masyarakat juga dinilai bisa berdamai dengan penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini.

Baca juga: Riset UI: Gojek Sumbang Rp 104,6 Triliun ke Ekonomi RI pada 2019

"Yang wafat karena TBC itu bahkan lebih tinggi dari Covid-19. Bisa 10-11 orang wafat per jam karena TBC, tapi ternyata kita masih bisa berdamai. Saat ini kita sedang berusaha menurunkan itu sampai kemudian bisa emliminasi TBC dari Indonesia," kata dia.

Oleh sebab itu, Suharso menekankan, masyarakat tetap bisa kembali berwisata namun dengan menerapkan protokol kesehatan. Lantaran, tempat-tempat destinasi wisata juga sudah menerapkan protokol kesehatan.

Di Bali, salah satu upaya untuk menerapkan protokol kesehatan dilakukan Bappenas dengan membuat standar tertentu untuk menjadi tolok ukur toko atau restoran kembali dibuka Standar ini mencakup penerapan protokol kesehatan yang diberlakukan.

"Misalnya dapur-dapur di restoran apakah itu sudah benar taat azas dengan protokol kesehatan atau enggak, pakai masker atau tidak, dan sebagainya. Jadi bukan hanya tingkat kesehatan pada umumnya, tapi memang harus ada plus karena berkaitan dengan Covid-19," kata dia.

Baca juga: Ini 3 Alasan Investor Lebih Pilih Vietnam Ketimbang Indonesia



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X