Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Waralaba: Antara Janji, Ekspektasi dan Realisasi

Kompas.com - 04/12/2020, 09:30 WIB
Ilustrasi franchise, waralaba Dok. HaloMoney.co.idIlustrasi franchise, waralaba

Bisnis waralaba mencoba mereplikasi kesuksesan usaha di suatu tempat untuk diulang di tempat lain dengan konsep yang sama. Jadi rasanya agak riskan jika ada bisnis yang baru seumur jagung kemudian diwaralabakan.

Ketiga, bisnis waralaba harus memiliki SOP (Standard Operating Procedure) agar produk yang dihasilkan dan layanan yang diberikan antar gerai relatif sama. Konsistensi menghasilkan produk yang berkualitas dan layanan prima menjadi kunci waralaba yang sukses.

Keempat, bisnis waralaba semestinya mengembangkan produk dan jasa yang sederhana namun menarik bagi pasar, sehingga mudah bagi pewaralaba untuk mengajarkan kepada mitra terwaralaba untuk diaplikasikan. Untuk mendukung itu, pewaralaba selayaknya memiliki training center yang memadai.

Kelima, pewaralaba harus memiliki staf pendukung penuh di lapangan untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada mitra terwaralaba. Staf pendukung tentu saja harus disesuaikan dengan jumlah gerai yang ada.

Di sini pewaralaba diingatkan mengenai kemampuan untuk memberikan dukungan kepada seluruh gerai. Tidak semata “jor-joran” mengejar pembukaan gerai tapi tidak mampu untuk menyiapkan dukungan kepada terwaralaba. Sasaran pertumbuhan harus diukur sesuai kemampuan dari staf pendukung.

Keenam atau terakhir, bisnis waralaba yang dikembangkan harus telah memiliki perlindungan HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual). Ini akan memberikan kepastian dan rasa aman bagi mitra terwaralaba yang mengeluarkan sejumlah uang untuk berbisnis waralaba.

Perlindungan hukum menunjukkan bahwa bisnis waralaba dijalankan dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan keberlanjutan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Biasanya pewaralaba selalu memberikan ekspektasi yang cenderung berlebihan seolah bisnis waralaba itu kebal krisis dan bebas risiko. Padahal tidak ada bisnis yang nol risiko dan kebal dari perubahan lingkungan yang dinamis. Janji indah yang membangun ekspektasi berlebihan bukan tanpa sebab.

Seperti cerita di awal tentang si pengusaha kopi susu, pewaralaba berkepentingan untuk menarik terwaralaba sebanyak-banyaknya demi pemenuhan target pertumbuhan dan tentu saja keuntungan berlimpah. Tinggal terwaralaba yang mesti berhati-hati menghadapi pewaralaba yang egois ini.

Maka ketika ekspektasi tak terpenuhi, terwaralaba kembali dihadapkan pada wajah sesungguhnya dari sebuah usaha. Kadang naik, kadang turun, atau jumpalitan tak menentu, bagai roller coaster kehidupan. Bisnis waralaba pun demikian. Membuka jalan untuk memulai usaha, namun jalannya tak selalu mulus dan rata.

Franky Selamat
Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Fajar Hermawan
Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.