Beli Saham Pakai Utang? Simak Ini

Kompas.com - 18/01/2021, 12:36 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020). ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAKaryawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com – Instrumen investasi saham merupakan salah satu investasi yang mempunyai risiko tinggi. Sehingga ketika memutuskan untuk berinvestasi saham, investor harus siap dengan segala kemungkinan kerugian yang bisa terjadi.

Belum lama ini, banyak investor newbie mengaku beli saham pakai utang, lalu rugi karena harga sahamnya anjlok. Di sisi lain, munculnya influencer yang memamerkan keuntungan berlimpah atas kepemilikan saham mereka, juga memicu investor baru untuk ikut–ikutan membeli saham.

Padahal, dalam membeli saham ada beberapa pertimbangan yang dilakukan, seperti misalnya melihat fundamental perusahaan, pergerakan harga sahamnya dalam kurun waktu tertentu, aksi korporasi dan lain sebagainya.

Baca juga: Digugat Ganti Rugi 1,1 Ton Emas, Bagaimana Nasib Saham ANTM Hari Ini?

Perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, membeli saham dengan utang bukanlah keputusan yang bijak. Hal ini mengingat, pergerakan harga saham bukan hal yang bisa dipastikan, sementara utang adalah hal yang pasti untuk dibayar.

Ketika utang lebih besar dari pada imbal hasil yang diinvestasikan di pasar modal, maka investor harus menanggung kerugian yang nominalnya tidak bisa dipastikan. Maka dari itu, penting untuk berpikir jangka panjang dalam berinvestasi saham.

Investasi itu seharusnya berpikir jangka panjang, buka sesaat. Investasi dengan menggunakan utang tidak boleh, karena investasi bersifat tidak pasti hasilnya, sedangkan utang itu sifatnya pasti pembayaran dan biayanya. Sesuatu yang tidak pasti, tidak boleh dilawan dengan sesuatu yang pasti, karena akan susah kedepannya,” kata Eko kepada Kompas.com, Senin (18/1/2021).

Eko menegaskan, investor harus sadar dengan prinsip investasi yakni high risk, high return dan low risk low return (risiko tinggi keuntungan besar, risiko kecil keuntungan tipis). Selain itu, prinsip Don't Put All your Eggs in One Basket (jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang) juga penting untuk dilakukan, atau ada baiknya untuk melakukan diversifikasi investasi.

“Walaupun secara teori pasar lagi naik, namun kita enggak bisa ngukur risiko itu, karena semakin tinggi hasilnya semakin besar risikonya,” jelas dia.

Utang untuk investasi, juga tidak bisa dikatakan sebagai pinjaman produktif. Hal ini karena karena seorang investor mempertaruhkan investasinya dengan biaya yang sudah pasti akan dikeluarkan.

Menurut Eko, investasi dengan utang, lebih tepatnya disebut pinjaman spekulatif.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X