Kompas.com - 19/01/2021, 15:39 WIB
Hery Gunardi KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIHery Gunardi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Syariah Indonesia (BSI) yang akan legal merger pada 1 Februari 2021 mendatang sudah punya target menjadi Bank BUKU IV.

Ketua Project Management Office (PMO) Bank Syariah BUMN Hery Gunardi mengatakan, BSI bisa menjadi bank BUKU IV pada tahun 2022 mendatang, tak lama setelah merger dilakukan pada 2021.

"Pasca merger modal Bank Syariah Indonesia akan mencapai Rp 20,4 triliun, dan harapannya bisa menjadi BUKU 4 pada awal 2022 dari return earning dan tambahan rights issue," kata Hery dalam paparan Outlook Ekonomi Syariah secara virtual, Selasa (19/1/2021).

Baca juga: Fakta Seputar Kabar Rencana Muhammadiyah Dirikan Bank Syariah

Tak hanya itu, Hery punya target untuk menggarap segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). BSI bakal menyasar segmen UMKM sebesar 25-30 persen dari total portofolio bisnis hingga akhir 2021.

Pria yang didapuk menjadi Direktur Utama Bank Syariah Indonesia ini menyebut, target tersebut tak hanya dicapai oleh penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) syariah dari penempatan dana pemerintah kepada 3 bank syariah BUMN.

"Tidak hanya (pembiayaan) UMKM yang sifatnya hanya KUR syariah. Value chain UMKM digital, plasma inti dengan perkebunan, itu semua sudah menjadi salah satu strategi kami untuk mengembangkan UMKM syariah yang ada di Indonesia," sebut Hery.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai informasi, BSI akan memiliki aset mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun pasca legal merger terlaksana.

Jumlah aset dan modal inti tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

Bank hasil penggabungan akan tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS.

Komposisi pemegang saham pada Bank Hasil Penggabungan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 25,0 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.

Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan.

Baca juga: Pekan Ini, Izin Merger Bank Syariah Indonesia dari OJK Bakal Diterbitkan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.