Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pencairan Insentif Nakes Sempat Terlambat, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Kompas.com - 03/07/2021, 05:50 WIB
Mutia Fauzia

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan alasan mengenai tunggakan pencairan insentif tenaga kesehatan (nakes) yang menangani Covid-19 untuk anggaran tahun 2020 lalu.

Ia menjelaskan, tahun 2020 lalu, ada Rp 1,4 triliun insentif tenaga kesehatan yang belum dibayarkan. Namun anggaran tersebut tellah direalisir tahun ini sebesar Rp 1,308 triliun.

"Nah untuk tahun 2021 ini ternyata kita mendapatkan adanya tunggakan insentif tahun 2020 yang belum terbayar, yaitu Rp 1,4 triliun yang sekarnag sudah dibayarkan dan terealisir Rp 1,308 triliun," ujar Sri Mulyani ketika memberikan keterangan pers, Jumat (2/7/2021).

Baca juga: PPKM Darurat, Sri Mulyani Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tak Sampai 6,5 Persen

Ia pun menjelaskan, pemerintah memberikan tambahan insentif nakes sebesar Rp 4,654 triliun di tahun 2020. Kini, realisasi anggaran insentif tersebut hampir terealisasi 100 persen, yakni sebesar Rp 4,65 triliun.

Jumlah tersebut terdiri atas insentif tenaga kesehatan sebesar Rp 4,65 triliun dan santunan kematian Rp 53,8 miliar.

Sri Mulyani menjelaskan, tunggakan pencairan insentif nakes yang terjadi tahun 2020 disebabkan oleh perubahan teknis pencairan. Namun, hal itu sudah diperbaiki.

"Saya ingin tekankan persoalan di sini adalah waktu itu Menteri kesehatan memang mengubah untuk pembayaran insentif nakes itu langsung kepada nakesnya dan per akun. Sehingga memang kemudian terjadilan sedikit keterlambatan karena melakukan inventarisasi lagi. Namun sekarang sudah relatif cukup lancar," jelas Sri Mulyani.

Baca juga: PPKM Darurat, Sri Mulyani Percepat Penyaluran Kartu Sembako Rp 200.000

Bendahara Negara itu mengatakan, untuk tahun 2021, pemerintah menganggarkan insentif tenaga kesehatan sebesar Rp 3,799 triliun. Dari jumlah tersebut, kini sudah terealisir sebesar Rp 2,652 triliun atau 69,8 persen.

Santunan kematian dari pagu Rp 50 miliar realisasinya sebesar Rp 49,8 miliar.

Sehingga, secara keseluruhan, pagu pembayaran insentif tahun 2021 sebesar Rp 5,329 triliun, karena ada tambahan pencairan insentif tahun 2020 yang telat.

Dari total jumlah tersebut, realisasinya sebesar Rp 4,010 triliun atau 75,3 persen.

"Tunggakan untuk nakes tahun 2020 yang telah selesai di-review oleh BPKP sebesar 1,34 triliun atau 90,8 persen sampai dengan 11 Juni adalah untuk 200.506 tenaga kesehatan yang bekerja di 1.607 fasilitas kesehatan. ini bisa rumah sakit, puskesmas dan lain-lain," jelas Sri Mulyani.

Baca juga: Pemerintah Masih Menunggak Pembayaran Insentif Nakes Rp 1,48 Triliun

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Harga Emas Terbaru 25 Mei 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 25 Mei 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Harga Emas Antam: Detail Harga Terbaru Pada Sabtu 25 Mei 2024

Harga Emas Antam: Detail Harga Terbaru Pada Sabtu 25 Mei 2024

Spend Smart
Menko Airlangga Beberkan Keberhasilan Perekonomian Indonesia di Hadapan Para Pemimpin Global pada Nikkei Forum 2024

Menko Airlangga Beberkan Keberhasilan Perekonomian Indonesia di Hadapan Para Pemimpin Global pada Nikkei Forum 2024

Whats New
Giliran Kemenhub Tegur Garuda Soal Layanan Penerbangan Haji

Giliran Kemenhub Tegur Garuda Soal Layanan Penerbangan Haji

Whats New
Harga Bahan Pokok Sabtu 25 Mei 2024, Harga Ikan Kembung Naik, Cabai Merah Keriting Turun

Harga Bahan Pokok Sabtu 25 Mei 2024, Harga Ikan Kembung Naik, Cabai Merah Keriting Turun

Whats New
Kebakaran di Kilang Pertamina Balikpapan Sudah Berhasil Dipadamkan

Kebakaran di Kilang Pertamina Balikpapan Sudah Berhasil Dipadamkan

Whats New
Kenaikan Harga Saham Nvidia, Nasdaq Catat Rekor Tertinggi

Kenaikan Harga Saham Nvidia, Nasdaq Catat Rekor Tertinggi

Whats New
Kinerja Kepala Desa Millenial dan Z

Kinerja Kepala Desa Millenial dan Z

Whats New
Berkaca dari AS, Banyak Kredit Macet Akibat Student Loan

Berkaca dari AS, Banyak Kredit Macet Akibat Student Loan

Whats New
Atur Keuangan Agar Bebas Hutang, Ini Tipsnya

Atur Keuangan Agar Bebas Hutang, Ini Tipsnya

Work Smart
Penyebab Student Loan Gagal di Era Soeharto: Banyak Kredit Macet

Penyebab Student Loan Gagal di Era Soeharto: Banyak Kredit Macet

Whats New
Harga Batu Bara Acuan Mei 2024 Turun 5,8 Persen Jadi 114,06 Dollar AS Per Ton

Harga Batu Bara Acuan Mei 2024 Turun 5,8 Persen Jadi 114,06 Dollar AS Per Ton

Whats New
AHY Usul Ada Badan Air Nasional, Basuki: Koordinasi Makin Susah

AHY Usul Ada Badan Air Nasional, Basuki: Koordinasi Makin Susah

Whats New
[POPULER MONEY] 2015 Masih Rp 500.000-an Per Gram, Ini Penyebab Harga Emas Naik | AI Bakal Ambil Alih Semua Pekerjaan Manusia

[POPULER MONEY] 2015 Masih Rp 500.000-an Per Gram, Ini Penyebab Harga Emas Naik | AI Bakal Ambil Alih Semua Pekerjaan Manusia

Whats New
Student Loan era Soeharto, Ijazah Jadi Agunan, Ditahan Bank sampai Utang Lunas

Student Loan era Soeharto, Ijazah Jadi Agunan, Ditahan Bank sampai Utang Lunas

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com