Pandemi Covid-19 Belum Usai, OJK Minta Bank Awasi Restrukturisasi Kredit

Kompas.com - 07/09/2021, 17:47 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana di Gedung OJK Jakarta, Jumat (10/11/2017).  KOMPAS.com/ACHMAD FAUZIKepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana di Gedung OJK Jakarta, Jumat (10/11/2017). 

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank tetap waspada meski outstanding restrukturisasi kredit perbankan mulai melandai.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana mengatakan, dampak pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Bahkan, sejak Juli 2021, pandemi meningkat kembali dengan munculnya varian Delta dan adanya PPKM Level 4.

Baca juga: OJK Perpanjang Relaksasi Kredit Perbankan, Apa Saja Stimulus yang Diberikan?

"Tentunya sudah beberapa bulan saya cermati, ini cukup memukul kinerja sektor riil dan debitur yang direstrukturisasi. Dampak Covid-19 terhadap ekonomi nasional kita belum akan selesai dalam waktu dekat," kata Heru dalam webinar Infobank, Selasa (7/9/2021).

Heru menuturkan, bank perlu membuat beberapa antisipasi termasuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) bagi debitur yang terlihat mulai kesulitan setelah direstrukturisasi.

CKPN harus dibentuk meski outstanding restrukturisasi mengecil.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada Juli 2021, OJK mencatat outstanding restrukturisasi mencapai Rp 779 triliun kepada 5,1 juta debitur.

Catatan ini memang menurun dibanding oustanding pada akhir 2020 sebesar Rp 914 triliun kepada 7,55 triliun.

Baca juga: OJK Susun Aturan Stock Split dan Reverse Stock, Apa Untungnya bagi Investor?

"Walau sudah menurun, jumlah Rp 779 triliun yang direstrukturisasi itu adalah jumlah yang besar. Itu jadi perhatian kita karena memang dampak dari restrukturisasi yang besar ini kita perlu cermati ke depan," beber Heru.

Heru menyebut, lonjakan pandemi menjadi salah satu alasan OJK kembali memperpanjang restrukturisasi hingga Maret 2023.

Pertimbangan ini juga memperhitungkan stabilitas kinerja bank dan menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sudah menggeliat sejak kuartal II 2021.

"Kami ingin memberi kepastian bagi bank dalam menyusun RBB tahun 2022. Sengaja kita keluarkan di bulan September supaya nanti para bankir sudah bisa sampaikan RBB OJK pada bulan November dengan perhitungan yang sangat matang," pungkas Heru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.