Sri Mulyani: 90 Persen SDM Industri Keuangan Syariah Lulusan Ekonomi Konvensional

Kompas.com - 28/10/2021, 10:35 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (5/3/2020). KOMPAS.com/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (5/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, industri keuangan termasuk syariah lebih banyak memperkerjakan lulusan keuangan dan ekonomi konvensional dibanding lulusan ekonomi syariah.

Dia menyayangkan hal tersebut mengingat saat ini terdapat sekitar 800 program studi di universitas dengan tema syariah. Jika satu program studi mampu meluluskan 50 orang per tahun, ada potensi 40.000 sumber daya manusia yang bisa diserap industri.

"80-90 persen SDM industri di bidang keuangan syariah lebih banyak memperkerjakan mereka yang bukan berasal dari prodi islam. Pelaku industri keuangan cenderung memilih atau merekrut dan memberi pelatihan ekonomi syariah kepada lulusan ekonomi yang konvensional," kata Sri Mulyani dalam webinar ISEF, Kamis (28/10/2021).

Baca juga: Ekonomi Dipatok Tumbuh 4 Persen, Sri Mulyani: Proyeksi IMF dan OECD Terlalu Rendah

Kendati demikian, kesalahan tak serta-merta berasal dari industri. Bendahara negara ini menilai, program studi Islam turut bertanggung jawab atas hal tersebut.

Menurut Sri Mulyani, program studi ekonomi syariah di berbagai perguruan tinggi harus membuka diri dan melihat kekurangannya. Cara ini membuat terjadinya transfer pengetahuan sehingga SDM lulusan ekonomi syariah memenuhi kompetensi dan skill yang dibutuhkan oleh industri.

"(Jika) lulusannya kurang berkompetisi dengan lulusan ekononomi konvensional, cari cara dalam mendekati suatu masalah dan bagaimana (caranya mempersiapkan) kesiapan mereka di dunia kerja," ucap Sri Mulyani.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI) ini menyebut, peningkatan keterampilan dan kemampuan dasar menjadi makin penting karena persaingan tak hanya datang dari manusia.

Saat ini, dunia memasuki masa revolusi industri 4.0 yang menciptakan peluang bersamaan dengan disrupsi. Kompetitor akan datang dari kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI) seiring pesatnya pemanfaatan teknologi digital.

"Ke depan kompetisinya adalah dengan AI yang dimodelkan dalam mesin dan teknologi lain. Fenomena ini menuntut institusi pendidikan di Indonesia untuk berubah menyesuaikan diri," beber Sri Mulyani.

Di sisi lain, perguruan tinggi dengan program studi ekonomi syariah tetap harus menjaga prinsip keislaman yang identik dengan nilai keadilan dan kejujuran.

Nilai tersebut merupakan nilai universal sehingga relevan untuk seluruh masyarakat, bukan hanya masyarakat muslim. Secara instrumental, ekonomi syariah menghindarkan unsur eksploitasi dan kezaliman (riba), spekulasi (gharar), dan judi (maysir).

"Kalau kita percaya bahwa Islam merupakan suatu agama yang bisa menjawab seluruh tantangan zaman, maka tanggung jawabnya adalah bagaimana mengaktualkan nilai Islam dalam konteks kontemporer yang sangat dinamis," pungkas Sri Mulyani.

Baca juga: Maruf Amin: Pertumbuhan Keuangan Syariah Lebih Cepat ketimbang Konvensional

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.