Kompas.com - 23/06/2020, 16:35 WIB
Jin Mao Tower, Shanghai Tower, dan Shanghai World Financial Center terlihat dari IFC Hotel, terdapat 990 gedung pencakar langit di Shanghai, China (13/8/2015). SHUTTERSTOCK/PAVEL L PHOTO AND VIDEOJin Mao Tower, Shanghai Tower, dan Shanghai World Financial Center terlihat dari IFC Hotel, terdapat 990 gedung pencakar langit di Shanghai, China (13/8/2015).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto mengatakan, cepatnya pemulihan ekonomi China membawa berita baik bagi Indonesia.

"Mulai Maret-April kemarin ada geliat ekonomi di China tentu menjadi kabar baik untuk Indonesia karena China adalah salah satu partner dagang utama untuk Indonesia baik dari sisi ekspor maupun impor," kata Ryan dalam konferensi video, Selasa (23/6/2020).

Ryan menilai, China merupakan salah satu negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia yang proses pemulihannya sangat cepat, usai membukukan rekor kontraksi ekonomi - 6,8 persen di kuartal I-2020 akibat memberlakukan karantina wilayah.

Baca juga: Menhub: Pagu Indikatif Anggaran Kemenhub 2021 Jauh di Bawah Kebutuhan

"China adalah salah satu negara di dunia yang cepat sekali recovery dan akan drive (menyetir) ekonomi dunia tahun ini dan tahun depan," tutur Ryan.

Kendati demikian, 2 mitra dagang RI terbesar lainnya mengalami resesi secara teknikal, yakni Jepang dan Amerika Serikat (AS). Bahkan AS disebut-sebut sebagai negara yang sangat buruk dalam menangani Covid-19 sehingga pemulihan ekonomi akan berjalan lebih panjang.

Resesinya AS terlihat dari lebih banyak indikator pertumbuhan ekonomi yang melaju di zona merah. Sementara Jepang, terlihat dari terjadinya kontraksi pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Buwas: Ada 100 Karyawan Bulog yang Terancam Dipecat

"Jepang hari ini sudah resesi, dari produksi mobil betul-betul anjlok luar biasa. Sementara resesi di AS diperparah dengan adanya demo warga karena kematian orang kulit hitam (George Floyd). AS tahun ini diprediksi -6 persen," papar Ryan.

Lebih jauh dia menuturkan, cepat pulihnya ekonomi suatu negara tidak terlepas dari masifnya penanganan Covid-19 di negara tersebut. Negara-negara yang secara masif menangani Covid-19 memiliki tren pertumbuhan berbentuk V (V-shape).

"Sementara negara yang lambat mengatasi, itu melebar kurvanya mendekati huruf U. Mudah-mudahan negara Indonesia pola recovery-nya tidak menyerupai pola mendekati huruf U," harap Ryan.

Baca juga: Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Terendah Setelah Krisis 1998

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.