BEI: Rp 82,9 Triliun Obligasi dan Sukuk Berpotensi Diterbitkan pada 2021

Kompas.com - 30/08/2021, 12:37 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGIlustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, saat ini penerbitan obligasi dan sukuk menjadi salah satu alternatif bagi perusahaan yang ingin memperoleh pendanaan melalui pasar modal.

Berdasarkan catatan BEI, sampai dengan Jumat (27/8/2021), jumlah obligasi dan sukuk korporasi yang ada di pipeline Bursa berjumlah 29 emisi, yang akan diterbitkan oleh 20 Perusahaan.

“Berdasarkan catatan kami, penggunaan dana atas penerbitan Obligasi dan Sukuk antara lain ditujukan untuk modal kerja, ekspansi usaha, refinancing maupun kombinasi atas tujuan tersebut,” kata Nyoman akhir pekan lalu kepada wartawan.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Sukuk dan Bedanya dengan Obligasi

Adapun tren penerbitan obligasi dan sukuk sebagian besar menggunakan skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB), yang dinilai lebih cepat prosesnya dan menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk menyelaraskan momentum di pasar modal.

Nyoman memperkirakan, pencatatan obligasi dan sukuk di tahun 2021 berjumlah lebih dari 84 emisi yang diterbitkan oleh 58 Perusahaan.

“Sepanjang tahun 2021, jumlah emisi obligasi dan sukuk yang berpotensi untuk diterbitkan ada sekitar Rp 82,9 triliun, termasuk obligasi dan sukuk yang sudah tercatat di BEI,” jelas Nyoman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Nyoman, beberapa perusahaan mencatatkan obligasi dan sukuknya di BEI secara reguler, yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan, termasuk penggunaan dananya.

“BEI mendukung perusahaan yang akan melakukan pendanaan di pasar modal, termasuk melalui penerbitan obligasi dan sukuk. Kami yakin, perusahaan tentunya telah mempertimbangkan secara matang dari berbagai aspek dalam menentukan penggunaan dana obligasi maupun sukuk,” jelas dia.

Di sisi lain, Nyoman menilai penerbitan obligasi dan sukuk yang dilakukan perusahaan, tak lain karena mengingat suku bunga BI Rate yang relative lebih rendah dan stabil sejak Februari 2021.

“Pemanfaatan momentum suku bunga BI rate yang relatif rendah dan stabil sejak Februari 2021, yaitu 3,5 persen menjadi salah satu pertimbangan bagi perusahaan dalam melakukan refinancing,” jelas dia.

Baca juga: Pahami Perbedaan Saham dan Obligasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.