Kompas.com - 21/10/2020, 21:12 WIB
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM, Rida Mulyana memberikan keterangan terkait padamnya listrik di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat
di Gedung ESDM, Jakarta, Senin (5/8/2019). MURTI ALI LINGGADirektur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM, Rida Mulyana memberikan keterangan terkait padamnya listrik di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat di Gedung ESDM, Jakarta, Senin (5/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah mengupayakan berbagai langkah untuk menggenjot bauran energi baru terbarukan (EBT) terhadap porsi sumber energi nasional. Salah satu langkah sedang disiapkan adalah perumusan aturan tarif listrik berbasis EBT, yang akan tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres).

Melalui Perpres tersebut, pemerintah akan memberikan skema tarif yang dinilai menarik bagi para pelaku usaha EBT.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, saat ini draf aturan tersebut tengah difinalisasikan.

Baca juga: Panel Surya Siap Salip Batu Bara sebagai Bahan Bakar Listrik Nomor Satu

Ia bahkan memberi sinyal, draf akhir Perpres tarif listrik EBT akan terbit lusa.

"Besok lusa mungkin, saya mungkin sedikit membocorkan bisa jadi penjelasan lebih detail teman-teman dari Ditjen EBTKE. Saat ini kami sedang memfinalisasi Perpres tarif EBT," ujar Rida dalam diskusi virtual, Rabu (21/10/2020).

Lebih lanjut, Rida menegaskan, aturan tersebut disiapkan untuk menarik minat para investor untu menanamkan modal-nya pada industri EBT.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pasalnya, dengan aturan yang ada saat ini biaya pokok produksi EBT menjadi lebih mahal ketimbang energi fosil.

Contoh saja dalam pengembangan energi panas bumi, selama ini biaya eksplorasi masih ditanggung pihak pengembang. Dengan demikian, investor perlu mengucurkan biaya lebih untuk menanggung resiko eksplorasi.

"Ini berdampak pada harga jual listrik dari panas bumi. Selama ini panas bumi lebih mahal dibandingkan fosil batu bara," ujar Rida.

Padahal, pengembangan EBT dinilai menjadi sangat penting guna menjaga ketahanan energi nasional.

Sebab, pada saat bersamaan sumber energi fosil terus terkuras keberdaannya. Apabila tidak dilakukan eksplorasi, maka sumber tersebut berpotensi habis dalam waktu dekat.

"Sekiranya tidak ada penemuan baru, cadangan baru, maka dengan tingkat produksi yang ada, maka minyak bumi akan habis dalam 9 tahun. Ini bergerak terus," ucap Rida.

Baca juga: Ini Hambatan Pengembangan Pembangkit Listrik EBT di RI



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X