Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonom UI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,19 Persen di 2022

Kompas.com - 03/02/2023, 19:40 WIB
Yohana Artha Uly,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 akan berkisar 5,18-5,2 persen, atau tepatnya bisa mencapai 5,19 persen.

Proyeksi itu mempertimbangkan kinerja ekonomi di tiga kuartal tahun lalu yang terjaga di atas 5 persen. Namun, pada kuartal IV-2022 diperkirakan cenderung melemah dengan tumbuh di kisaran 4,51-461 persen, atau dengan titik tengah di 4,56 persen.

"Perekonomian masih akan tumbuh pada wilayah positif di 4,56 persen pada pada kuartal IV-2022, kisaran perkiraan dari 4,51-4,61 persen, membuat estimasi sepanjang 2022 tumbuh 5,19 persen, kisaran estimasi 5,18-5,20 persen," ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam analisisnya, Jumat (3/1/2023).

Baca juga: BI Sebut Kebijakan Moneter Pro Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Ia mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu akan dipengaruhi sejumlah faktor. Utamanya gejolak ekonomi global, mulai dari ketegangan geopolitik, kenaikan harga pangan dan energi, lonjakan inflasi.

Meski ada sejumlah tekanan dari global, Indonesia telah mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif di tiga kuartal 2022, bahkan mencapai 5,72 persen di kuartal III-2022. Ini merupakan level tertinggi kinerja ekonomi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

Namun, diakui Teuku, di tiga bulan terakhir 2022, Indonesia masih menghadapi ancaman tingginya tingkat harga dengan inflasi umum yang lebih tinggi dari kisaran target BI sebesar 3 persen plus minus 1 persen.

Tingginya inflasi itu diakibatkan lonjakan harga komoditas yang membuat pemerintah perlu melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Kendati begitu, laju inflasi 2022 dinilai tetap relatif terjaga di level moderan 5,51 persen.

Baca juga: Bank Indonesia Sebut Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat Akibat Potensi Resesi

"Tekanan inflasi pada tahun 2022 lebih rendah dari prakiraan awal dan masih relatif terjaga, berkat penundaan kenaikan harga BBM dan kebijakan normalisasi inflasi yang terkoordinasi dengan baik oleh BI dan pemerintah Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, di tiga bulan terakhir tahun lalu, juga mulai mengalami tren penurunan harga komoditas secara bertahap sehingga akan sangat mempengaruhi kinerja ekspor-impor yang merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Hal inilah yang membuat ekonomi di kuartal IV-2022 diproyeksi tidak akan tumbuh di atas 5 persen.

"Dengan mempertimbangkan semua hal, Indonesia mungkin tidak akan tumbuh di atas 5 persen pada kuartal IV-2022 karena menghilangnya low-base effect dan harga komoditas yang lebih rendah pada akhir tahun 2022 dibandingkan dengan kuartal kedua dan ketiga tahun 2022," tutup Teuku.

Baca juga: Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi RI Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Dunia yang Nyungsep

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com