BI Diprediksi Bakal Turunkan Suku Bunga Pekan Ini, Berikut Alasannya

Kompas.com - 19/02/2020, 10:02 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo didampingi para deputinya sebelum memaparkan keputusan suku bunga 7-Days Reverse Repo Rate, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (23/1/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo didampingi para deputinya sebelum memaparkan keputusan suku bunga 7-Days Reverse Repo Rate, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (23/1/2020).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro, memprediksi Bank Indonesia (BI) akan kembali menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen minggu ini, 19-20 Februari 2020.

Penurunan suku bunga tersebut karena adanya wabah virus corona yang akhirnya berdampak signifikan pada perdagangan, sektor pariwisata, dan pertumbuhan PDB nasional.

Satria melihat, investasi merupakan yang dapat paling terpengaruh karena penghentian impor dari China dapat memengaruhi aktivitas manufaktur lokal.

"Kami melihat perlunya bank sentral untuk bertindak secara pre-emptively untuk menghadapi kemungkinan pelambatan dalam investasi," kata kata Satria dalam laporannya, Rabu (19/2/2020).

Baca juga: Omnibus Law, Batas Minimal Kepemilikan Pesawat Maskapai Dihapus?

Data yang dipaparkan Satria menunjukkan, 50 persen impor Indonesia dari Cina adalah barang-barang manufaktur (HS84 / mesin-mesin industri, HS85 / peralatan listrik, HS72 & 73 / artikel besi dan baja) yang bertindak sebagai perantara barang untuk industri dalam negeri.

Sebagai contoh, tahun lalu Indonesia mengimpor dari China sejumlah besar suku cadang telekomunikasi (1,8 miliar dollar AS), komputer pribadi (1,06 miliar dollar AS), prosesor papan sirkuit (557 juta dollar AS), pagar untuk proyek-proyek infrastruktur (312,3 juta dollar AS), dan sekop mesin (195.6 juta dollar AS).

"Hal itu berarti adanya potensi gangguan dalam rantai pasokan di China karena wabah virus corona akan berdampak langsung pada pertumbuhan investasi Indonesia," ungkap Satria.

Baca juga: Milenial Tak Bisa Menabung? Cek Skema Pengeluaran Ini

Satria bilang, terganggunya impor barang modal berarti tidak ada rebound yang terlihat pada pertumbuhan investasi yang sudah melambat menjadi 4,06 persen di kuartal IV 2019.

Di sisi lain, beberapa proxy juga telah mengisyaratkan perlambatan investasi di kuartal I 2020, seperti PMI berada di bawah level 50 (49,3) pada Januari 2020 menunjukkan adanya kontraksi di sektor manufaktur.

Impor barang modal pada Januari pun turun 8,99 persen secara bulanan (mtm) dan 5,26 persen secara tahunan (yoy).

Baca juga: [POPULER MONEY] Mengenang Ashraf Sinclair dan Kegigihannya di Dunia Bisnis

"Menurut perhitungan kami, pada akhirnya menjadi hambatan bagi cetakan pertumbuhan PDB tahunan pada 2020," ujar Satria.

Sementara itu, kata Satria, pemerintah juga bisa menggulirkan insentif fiskal untuk mendorong pertumbuhan.

Seperti di sektor pariwisata misalnya, bisa dilakukan dengan pemotongan pagu harga tiket pesawat untuk meningkatkan pariwisata dan merangsang ekonomi lokal.

"Begitu pun penyesuaian dalam jumlah minimum Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dan kebijakan fiskal untuk sektor-sektor dengan efek pengganda (multiplier effect) yang tinggi terhadap pertumbuhan, seperti properti dan perumahan," jelasnya.

Baca juga: Eiger Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMK hingga S1

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X