Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beratnya Bisnis Kereta Cepat, di China Pun Merugi

Kompas.com - Diperbarui 05/12/2022, 03:53 WIB

KOMPAS.com - Di banyak negara, pembangunan kereta cepat seringkali menimbulkan polemik. Biaya investasi yang mahal dan lamanya waktu pengembalian modal adalah dua alasan utamanya.

Itu sebabnya, masih banyak negara, termasuk beberapa negara maju, belum memutuskan kereta cepat sebagai prioritas. Tanpa hitungan matang, proyek kereta cepat justru akan memberikan kerugian karena biaya operasional tak bisa ditutup dengan penjualan tiket.

China pun sejatinya sudah mulai mengerem pembangunan kereta cepatnya. Mereka mulai melirik untuk mengekspor kereta cepat ke luar negeri, Indonesia dan Laos menjadi pembeli pertamanya. 

Dari data yang dirilis Statista, dari 15 rute kereta cepat yang ada di China, hanya 5 yang menguntungkan. 10 sisanya terus menerus dalam kondisi merugi.

Sementara di Asia Tenggara, Malaysia memutuskan menghentikan proyek kereta cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Jurong Singapura di tengah jalan.

Baca juga: Dilema Pakai Kereta Cepat, Mau ke Bandung, tapi Turun di Padalarang

Negeri Jiran itu tegas memilih menghentikan proyek kereta peluru meskipun terlanjur mengeluarkan biaya investasi yang tak sedikit, termasuk harus membayar kompensasi kerugian ke Singapura.

Dikutip dari Japan Forward, masifnya pembangunan kereta cepat di China bisa menjadi bom waktu mengingat keterisian penumpang yang rendah, mengakibatkan pendapatan tiket tak bisa menutup biaya operasional.

Dalam sebuah laporan, China Railways, BUMN milik pemerintah China yang mengoperasikan kereta cepat, harus menanggung lonjakan utang sekitar 842 miliar dollar AS.

Jumlah utang China Railways ini setara tiga kali lipatnya jumlah utang yang membuat raksasa real estate China Evergrande Group mengalami krisis likuiditas.

Baca juga: Berapa Jumlah BUMN di China dan Mengapa Mereka Begitu Perkasa?

Para ahli memperingatkan bahwa utang China Railway yang sangat besar dapat menimbulkan risiko keuangan yang parah di masa mendatang.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+